Penambang Pasir Terpanggang Material Semeru Nyawa di Ujung Tanduk

Penambang Pasir Terpanggang Material Semeru Nyawa di Ujung Tanduk

madurapost.co.id – Kabar duka menyelimuti dunia pertambangan pasir di kaki Gunung Semeru. Seorang penambang bernama Veri Irawan, 33 tahun, kini berjuang keras melawan maut di RSUD Haryoto Lumajang. Warga Desa Sumberwuluh ini mengalami luka bakar parah setelah tertimbun sisa material awan panas guguran (APG) Semeru yang masih menyimpan suhu ekstrem. Insiden tragis ini kembali menyoroti bahaya aktivitas penambangan di zona rawan bencana.

Menurut keterangan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Isnugroho, musibah terjadi pada Jumat malam saat Veri bersama sekitar 16 rekan lainnya melakukan penambangan pasir manual. Mereka beraktivitas di area aliran lahar Gunung Semeru, tepatnya di bawah Jembatan Gladak Perak. Saat dini hari, tumpukan material pasir yang seharusnya sudah dingin, tiba-tiba longsor dan menimpa tubuh Veri. Material panas itu langsung membakar kulitnya, menyebabkan luka serius yang mengancam jiwa.

Penambang Pasir Terpanggang Material Semeru Nyawa di Ujung Tanduk
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Rekan-rekan Veri yang menyaksikan kejadian mengerikan itu segera bertindak cepat. Mereka bahu-membahu mengevakuasi korban dari timbunan material panas dan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis darurat. Kecepatan respons rekan-rekan penambang ini menjadi kunci awal penyelamatan, meskipun kondisi Veri sudah sangat kritis.

COLLABMEDIANET

Wakil Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang Wawan Arwijanto menjelaskan bahwa Veri telah menjalani serangkaian penanganan intensif sejak tiba di rumah sakit. Tim medis mendapati luka bakar yang diderita Veri mencapai angka mengerikan, lebih dari 80 persen dari total luas permukaan tubuhnya. Kondisi ini tergolong sangat berat, mengingat luka bakar di atas 40 persen saja sudah dikategorikan kritis.

"Tim medis telah melakukan operasi untuk membersihkan luka bakar, memasang akses cairan guna menjaga kondisi tubuh pasien, serta memberikan bantuan pernapasan," terang Wawan. Ia menambahkan, tindakan ini diambil karena ada kekhawatiran serius terhadap cedera saluran pernapasan akibat menghirup udara panas, serta potensi gangguan fungsi ginjal akibat kehilangan cairan dalam jumlah besar.

Saat ini, Veri masih berada dalam kondisi kritis dan memerlukan pengawasan ketat. Selain kerusakan kulit yang luas, tim dokter juga mewaspadai komplikasi pada organ vital lainnya. Pihak rumah sakit berjanji akan memberikan penanganan medis maksimal demi kesembuhan Veri. Masyarakat pun diminta untuk terus memanjatkan doa agar kondisi penambang malang ini dapat segera membaik.

Tragedi ini tak lepas dari aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terus bergejolak. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, Semeru sempat mengalami erupsi disertai awan panas guguran pada Jumat pagi pukul 07.21 WIB dengan jarak luncur 4,5 km ke arah Besuk Kobokan. Kemudian, APG Semeru kembali terjadi pada Sabtu dini hari pukul 03.01 WIB, meski jarak luncurnya tidak terpantau jelas karena tertutup kabut. Kondisi gunung yang masih aktif ini menjadi pengingat akan bahaya yang selalu mengintai para penambang di sekitarnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar