madurapost.co.id – Sebuah celah mengejutkan dalam mentalitas tim Argentina kini menjadi sorotan tajam menjelang duel krusial melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Bukan soal teknik atau taktik, namun sikap meremehkan lawan yang dianggap remeh justru menjadi bumerang mematikan bagi Albiceleste. Insiden saat menghadapi Tanjung Verde dan Yordania telah membuktikan bahwa keunggulan di atas kertas tak selalu menjamin kemenangan mulus, bahkan bisa berujung petaka.
Dalam laga 32 besar kontra Tanjung Verde, tim asuhan Lionel Scaloni sempat unggul namun kemudian mengendurkan intensitas permainan. Alih-alih menekan habis-habisan, mereka justru memberi ruang bagi lawan untuk bangkit, yang berujung pada dua gol balasan. Kemenangan Argentina kala itu bahkan harus "dibantu" oleh gol bunuh diri bek lawan. Pola serupa terlihat saat menghadapi Yordania, tim yang secara peringkat jauh di bawah mereka, namun berhasil membobol gawang Albiceleste setelah sebelumnya tak kebobolan dari tim kuat Aljazair dan Austria. Ini mengindikasikan bahwa peringatan Scaloni tentang bahaya meremehkan lawan tampaknya belum sepenuhnya diresapi para bintangnya.

Di sinilah Mesir, dengan Mohamed Salah dan Omar Marmoush sebagai motor serangan, menemukan celah emas. Tim Firaun, yang juga dikenal dengan gaya permainan bertahan solid, kini memiliki blueprint sempurna untuk menaklukkan Argentina. Mereka bisa memancing Lionel Messi dan kawan-kawan untuk merasa di atas angin, menciptakan kelengahan yang sama persis seperti yang dieksploitasi Yordania dan Tanjung Verde. Mesir bukan sekadar tim low-block biasa; mereka adalah versi "upgrade" dengan kualitas individu mumpuni yang tak dimiliki Tanjung Verde.

Related Post
Yang lebih menguntungkan Mesir adalah mentalitas "tanpa beban". Setelah penantian 92 tahun, mencapai babak 16 besar adalah pencapaian luar biasa bagi Tim Firaun. Mereka akan bermain lepas, tanpa tekanan berat, menjadikan kemenangan sebagai bonus manis dan kekalahan pun bukan aib. Situasi ini kontras dengan Argentina yang memikul beban berat sebagai juara bertahan, dituntut setidaknya mencapai final lagi. Tekanan ini bisa menjadi penghambat serius bagi ambisi mereka mempertahankan gelar.
Secara teknis, Mesir juga bukan lawan sembarangan. Mereka telah dua kali mengalahkan Tanjung Verde dalam dua tahun terakhir, termasuk di fase grup Piala Afrika 2024. Ini menunjukkan bahwa Mesir adalah tim yang lebih solid dan terorganisir dibandingkan lawan-lawan Argentina sebelumnya.








































Tinggalkan komentar