madurapost.co.id – Kota Malang Jawa Timur mengambil langkah berani dalam menghadapi krisis sampah yang kian mendesak. Pemerintah Kota Malang secara resmi mengajukan proposal penggunaan teknologi inovatif bernama autothermix melalui skema Local Service Delivery Project LSDP kepada pemerintah pusat. Harapan besar kini tertumpu pada sistem termal canggih ini untuk mengatasi gunungan sampah yang terus menumpuk.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigorang menegaskan bahwa usulan ini merupakan upaya serius untuk mencari jalan keluar dari persoalan sampah. Teknologi autothermix digadang-gadang sebagai terobosan baru dalam pengelolaan limbah berskala besar. Kapasitas pengolahan yang diajukan tidak main-main mencapai 100 hingga 150 ton sampah setiap hari. Angka ini diharapkan mampu mengurangi beban signifikan pada Tempat Pembuangan Akhir TPA Supit Urang yang kini sudah sangat kritis.

Situasi TPA Supit Urang memang sudah di ambang batas. Setiap hari TPA ini harus menampung sekitar 500 ton sampah dari total volume harian Kota Malang yang mencapai 860 ton. Tanpa intervensi serius dan solusi inovatif TPA Supit Urang diperkirakan hanya mampu beroperasi dua setengah hingga tiga tahun lagi. Kondisi ini tentu menjadi alarm keras bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat Malang.

Related Post
Raymond menjelaskan bahwa sistem autothermix memiliki perbedaan mendasar dengan insinerator yang seringkali menimbulkan kekhawatiran lingkungan. Autothermix bekerja dengan memanfaatkan uap panas yang dihasilkan dari pembakaran arang bukan melalui proses pembakaran langsung sampah. Arang dimasukkan ke dalam alat kemudian uap yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mengolah sampah secara efisien dan ramah lingkungan. Proses ini menjanjikan solusi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Selain mengandalkan teknologi canggih DLH Kota Malang juga tidak mengabaikan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu. Edukasi dan implementasi pemilahan sampah di tingkat masyarakat terus digalakkan. Sampah organik yang terkumpul diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi pertanian dan perkebunan. Sementara itu sampah anorganik dipilah berdasarkan jenisnya kemudian diproses menjadi berbagai barang bernilai ekonomis seperti meja dan kursi.
Bahkan sampah plastik yang telah dipilah mendapatkan perlakuan khusus. Sampah ini diubah menjadi bahan bakar solar yang dapat digunakan untuk mengoperasikan mesin pemroses hingga kendaraan pengangkut sampah. Meskipun produksi solar ini belum dapat dilakukan secara berkelanjutan namun inisiatif ini menunjukkan komitmen kuat Pemkot Malang dalam menerapkan ekonomi sirkular dan mencari solusi komprehensif untuk masa depan tanpa sampah.










































Tinggalkan komentar