Madurapost.co.id – Tim Satgas Pangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, melakukan langkah proaktif untuk memastikan stabilitas harga pangan di tengah dinamika pasar yang fluktuatif. Melalui inspeksi mendadak (sidak) yang menyasar berbagai titik distribusi, mulai dari pasar tradisional hingga ritel modern, petugas tidak menemukan adanya praktik penjualan beras yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Kegiatan pemantauan ini dilakukan secara intensif untuk menjamin bahwa masyarakat dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang wajar. Dalam operasi tersebut, Satgas Pangan yang terdiri dari unsur Polres Jember bersama instansi terkait menyisir lokasi-lokasi strategis seperti Pasar Tanjung dan pusat perbelanjaan modern di wilayah Jember.

Kanit Pidter sekaligus perwakilan Satgas Pangan Polres Jember, Iptu Hari Sasongko, menjelaskan bahwa pengawasan ini merupakan bentuk komitmen aparat dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Berdasarkan aturan yang berlaku, HET untuk beras medium dipatok sebesar Rp13.500 per kilogram, sementara untuk kualitas premium berada di angka Rp14.900 per kilogram. Adapun untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog, harga yang disarankan berkisar antara Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogram.

Related Post
Dalam pengecekan langsung di lapangan, petugas mendatangi sejumlah distributor besar seperti UD Utama Sari dan UD Sumber Pangan Barokah di Pasar Tanjung. Hasilnya, harga beras premium masih terjaga stabil di angka Rp14.900 per kilogram, sedangkan beras jenis SPHP ditemukan dijual dengan harga kompetitif di kisaran Rp11.800 per kilogram.
Kondisi serupa juga terpantau di sektor ritel modern, salah satunya di Lippo Mall Jember. Berbagai merek beras premium populer seperti Punokawan, Be Food Setra Ramos, hingga Santap masih dijual sesuai dengan ketentuan HET, yakni sekitar Rp14.900 per kilogram. Untuk beras SPHP di ritel tersebut, harganya berada di angka Rp12.500 per kilogram.
Meski harga terpantau aman dan tidak ada pelanggaran aturan HET, Iptu Hari Sasongko memberikan catatan penting terkait ketersediaan stok. Ia mengungkapkan bahwa petugas masih menemukan adanya keterbatasan pasokan, terutama untuk beras jenis medium di beberapa ritel modern. Fenomena ini juga terjadi di pasar tradisional, di mana stok beras premium di beberapa toko mulai menipis bahkan mengalami kekosongan.
Menurut analisis petugas, kondisi stok yang mulai berkurang ini dipicu oleh kenaikan harga gabah di tingkat petani, yang secara otomatis meningkatkan biaya produksi beras. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi rantai distribusi pangan di Jember.
Menyikapi situasi tersebut, Satgas Pangan menegaskan akan terus melakukan pemantauan secara kontinu dan berkala. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga yang tidak wajar serta memastikan pasokan tetap mengalir ke masyarakat. Pihak kepolisian juga mengimbau para pelaku usaha dan pedagang agar tetap patuh pada regulasi HET demi menjaga keseimbangan pasar.
Selain itu, koordinasi lintas sektoral antara pengelola pasar, pihak ritel, dan instansi terkait akan terus diperkuat. Satgas Pangan juga berharap para petani dapat menjaga stabilitas harga gabah agar keseimbangan ekonomi dari tingkat produsen hingga konsumen akhir tetap terjaga dengan baik.










































Tinggalkan komentar