Madurapost.co.id – Sebuah kekhawatiran yang beredar luas di tengah masyarakat Indonesia kini mendapat klarifikasi tegas dari pakar medis. Banyak pasien yang mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi merasa takut untuk mengonsumsi obat secara rutin karena adanya anggapan bahwa penggunaan obat dalam jangka panjang akan merusak fungsi ginjal.
Namun, anggapan tersebut justru merupakan sebuah kekeliruan fatal yang dapat membahayakan nyawa. Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, seorang dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi, menegaskan bahwa penyebab utama kerusakan ginjal bukanlah obat-obatan hipertensi, melainkan kondisi tekanan darah yang tidak terkendali.

Guru Besar Kardiologi dan Aritmia dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini menjelaskan bahwa ketakutan pasien terhadap efek samping obat sering kali menjadi bumerang bagi kesehatan mereka sendiri. Banyak pasien yang akhirnya memutuskan untuk berhenti minum obat atau mengonsumsinya secara tidak teratur karena takut ginjal mereka bermasalah.

Related Post
"Orang Indonesia kalau ketahuan hipertensi itu sering bilang, ‘Saya makan obat terus-terusan nanti sakit ginjal’. Padahal, justru mereka yang berhenti minum obat secara mendadak atau tidak teratur itulah yang berisiko mengalami kerusakan ginjal," ujar Prof. Yoga dalam sebuah konferensi pers di Jakarta.
Ia menekankan bahwa fungsi obat hipertensi adalah untuk menjaga agar tekanan darah tetap berada pada level yang aman. Dengan tekanan darah yang terkontrol, organ-organ vital seperti ginjal justru terlindungi dari kerusakan akibat tekanan yang terlalu tinggi secara terus-menerus. Jadi, bukan obat yang merusak ginjal, melainkan hipertensi yang dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.
Data menunjukkan bahwa kondisi ini sangat mengkhawatirkan di Indonesia. Prevalensi hipertensi di tanah air mencapai angka 32 persen dari total populasi. Namun, ironisnya, hanya sekitar 27 persen penderita yang terdiagnosis, dan jumlah mereka yang benar-benar menjalani pengobatan jauh lebih kecil lagi.
Lebih mengejutkan lagi, Prof. Yoga mengungkapkan bahwa hanya sekitar 4,2 persen pasien di Indonesia yang berhasil mencapai target pengobatan yang diinginkan. Rendahnya angka ini menjadi alarm bagi dunia kesehatan, mengingat hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya atrial fibrilasi (AF) atau gangguan irama jantung.
Menurutnya, sekitar 50 persen pasien AF di Indonesia juga merupakan penderita hipertensi. Jika tekanan darah dapat dikendalikan dengan baik, setidaknya satu dari lima kasus gangguan irama jantung tersebut sebenarnya dapat dicegah.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengambil keputusan sepihak dalam menghentikan pengobatan. Melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan patuh terhadap anjuran dokter adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih berat, seperti stroke, gagal ginjal, hingga serangan jantung.










































Tinggalkan komentar