<strong>Madurapost.co.id – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui perluasan program pemberdayaan wirausaha. Kali ini, fokus utama pemerintah daerah diarahkan pada kelompok yang memiliki potensi besar namun sering kali belum tersentuh secara maksimal dalam sektor bisnis, yakni para santri dan alumni pondok pesantren.
Langkah inovatif ini diwujudkan melalui peluncuran program "Wirausaha Santri 2026" yang digelar di Pondok Pesantren Ar-Ruhama, Karduluk, Sumenep. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai pelatihan keterampilan teknis biasa, melainkan sebuah gerakan untuk mengubah pola pikir santri agar mampu melihat peluang ekonomi di tengah ketatnya persaingan global dan digitalisasi.

Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk mencetak generasi muda yang mandiri dan kreatif. Menurutnya, santri harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital agar tidak tertinggal oleh zaman.

Related Post
"Bagi Pemkab Sumenep, pemberdayaan wirausaha santri adalah upaya nyata untuk melahirkan wirausaha muda yang tidak hanya mandiri, tetapi juga kreatif dalam memanfaatkan teknologi digital," ujar KH Imam Hasyim di sela-sela acara peluncuran tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program ini bertujuan memberikan ruang bagi para santri untuk mengubah kreativitas mereka menjadi peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pemerintah ingin membekali mereka dengan keberanian dan ketajaman dalam melihat potensi di sekitar mereka. Dengan kemampuan tersebut, diharapkan santri dapat mengolah potensi lokal menjadi gagasan usaha yang konkret.
Visi jangka panjang dari program ini adalah mengubah paradigma santri. Jika selama ini lulusan pesantren sering kali dipandang sebagai pencari kerja, Pemkab Sumenep ingin mereka bertransformasi menjadi pencipta lapangan kerja.
"Kami ingin santri tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan peluang usaha. Jika usaha mereka berkembang, akan muncul efek berantai (multiplier effect) bagi masyarakat sekitar, mulai dari terbukanya lapangan kerja hingga meningkatnya aktivitas ekonomi di lingkungan pesantren," tambahnya.
Pemkab Sumenep melihat pesantren memiliki keunggulan strategis karena keberadaannya yang tersebar luas hingga ke pelosok desa di seluruh wilayah Sumenep. Hal ini menjadikan pesantren sebagai basis ekonomi yang sangat potensial untuk menggerakkan roda perekonomian lokal.
Melalui komitmen ini, pemerintah daerah berharap para santri dan alumni pesantren dapat tampil sebagai garda terdepan dalam mengelola potensi daerah dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui penguasaan teknologi dan kemandirian mental. Melansir informasi dari madurapost.co.id, program ini diharapkan menjadi katalisator perubahan ekonomi yang signifikan di Kabupaten Sumenep.










































Tinggalkan komentar