Madurapost.co.id – Menyambut datangnya musim penghujan tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengambil langkah preventif yang sangat serius. Guna meminimalisir dampak buruk fenomena alam, sebanyak 855 personel gabungan telah dikerahkan dan disiagakan di titik-titik rawan untuk mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi.
Langkah masif ini diambil mengingat potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang diprediksi akan meningkat seiring dengan perubahan cuaca. Personel yang terdiri dari berbagai unsur terkait ini telah diterjunkan ke wilayah penugasan masing-masing agar dapat memberikan respons cepat jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat di lapangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, menegaskan bahwa seluruh persiapan telah dilakukan secara matang dan maksimal. Menurutnya, penempatan personel di lokasi strategis merupakan prioritas utama agar penanganan bencana tidak terlambat dan dapat dilakukan secara efektif.

Related Post
"Persiapan sudah kami lakukan secara maksimal. Saat ini, personel sudah diberangkatkan dan ditempatkan pada wilayah-wilayah yang menjadi fokus pengawasan guna mempercepat penanganan jika terjadi bencana," ujar Ahmad Baharudin dalam keterangannya, Jumat.
Selain mengerahkan tenaga manusia, pemerintah daerah juga telah menyusun skenario penanganan bencana yang komprehensif. Salah satu fokus utama adalah mitigasi banjir di kawasan perkotaan. Untuk mencegah luapan air akibat saluran yang tersumbat, Pemkab Tulungagung tengah gencar melakukan normalisasi drainase. Upaya ini meliputi pembersihan tumpukan sampah serta pengerukan endapan lumpur yang selama ini menghambat aliran air.
Proyek normalisasi saluran air ini sebenarnya telah dimulai sejak Agustus lalu dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada Desember mendatang. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tampung air sehingga risiko genangan di area pemukiman dapat ditekan serendah mungkin.
Di sisi lain, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Achmad Mugiono, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan mendalam terhadap wilayah-wilayah yang memiliki kerentanan tinggi. Berdasarkan data teknis, terdapat sembilan kecamatan yang masuk dalam zona merah rawan bencana hidrometeorologi.
Sembilan kecamatan tersebut adalah Rejotangan, Kalidawir, Pucanglaban, Tanggunggunung, Besuki, Gondang, Pagerwojo, Sendang, dan Pakel. Wilayah-wilayah ini akan menjadi fokus pengawasan intensif selama musim hujan berlangsung.
Guna memastikan koordinasi berjalan mulus, BPBD Tulungagung juga telah mengaktifkan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) yang beroperasi penuh selama 24 jam. Selain itu, program desa siaga bencana juga diaktifkan kembali untuk memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat.
"Kami siaga penuh selama 24 jam untuk menerima setiap laporan dari masyarakat. Jika terjadi bencana alam, kami akan segera melakukan koordinasi lintas sektor untuk penanganan di lapangan," pungkas Achmad Mugiono. Melalui sinergi antara pemerintah dan kesiapsiagaan warga, diharapkan dampak bencana dapat diminimalisir seminimal mungkin.



































Tinggalkan komentar