Rupiah Tertekan Akibat Data Ekonomi AS

Rupiah Tertekan Akibat Data Ekonomi AS

Madurapost.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren negatif saat pembukaan perdagangan pada Senin ini. Mata uang Garuda tercatat melemah sebesar 45 poin atau setara dengan 0,25 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data pasar, rupiah kini bertengger di level Rp17.948 per dolar AS, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.903 per dolar AS.

Kondisi ini tidak terjadi tanpa alasan. Berbagai faktor global yang berasal dari Amerika Serikat menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang domestik. Salah satu faktor yang paling menonjol adalah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan performa lebih tangguh dari yang diperkirakan sebelumnya, khususnya pada sektor penjualan barang tahan lama.

Rupiah Tertekan Akibat Data Ekonomi AS
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini merupakan dampak berantai dari data ekonomi AS yang kuat. Menurutnya, data tersebut memicu kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang kemudian memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, fluktuasi harga minyak mentah dunia dan ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed turut memperkeruh suasana pasar.

COLLABMEDIANET

Secara mendalam, data penjualan barang tahan lama AS menunjukkan angka 0 persen, sebuah angka yang secara mengejutkan lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan sebesar 0,4 persen. Selain itu, pesanan baru untuk barang tahan lama buatan AS pada bulan Agustus juga terpantau stabil di angka 338,6 miliar dolar AS. Kekuatan ekonomi ini memberikan sinyal bahwa ekonomi AS masih sangat resilien, yang pada gilirannya memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Situasi geopolitik juga menambah ketegangan di pasar keuangan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah laporan menyebutkan bahwa Washington menolak proposal terbaru dari Teheran. Iran sebelumnya mengajukan usulan untuk membuka kembali jalur perairan strategis dan memulai kembali dialog nuklir sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut serta sanksi minyak oleh AS. Penolakan ini meningkatkan risiko ketidakpastian global yang seringkali membuat investor beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS.

Kondisi ini juga berdampak pada pasar obligasi, di mana imbal hasil obligasi 10 tahun AS kini berada di angka 5,2 persen dan obligasi 30 tahun mencapai 5,52 persen. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga mengalami pergerakan signifikan, dengan WTI di kisaran 94,15 dolar AS per barel dan Brent menyentuh 103,2 dolar AS per barel.

Para pelaku pasar kini tengah menanti langkah kebijakan Federal Reserve. Berdasarkan data dari CME FedWatch, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober meningkat tajam menjadi 70 persen. Hal ini disebabkan oleh sentimen hawkish yang kuat, di mana suku bunga diprediksi akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Menanggapi dinamika ini, Lukman Leong memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar