Madurapost.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi akan kembali berjuang menembus dan menguji level psikologis penting di angka 6.000. Pergerakan pasar modal tanah air saat ini tengah berada dalam fase krusial yang sangat dinantikan oleh para pelaku pasar.
Pada perdagangan Jumat pagi, IHSG terpantau menunjukkan tren positif dengan penguatan sebesar 8,58 poin atau naik 0,14 persen, sehingga menyentuh posisi 6.018,08. Senada dengan pergerakan indeks utama, indeks LQ45 juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,90 poin atau 0,15 persen ke level 593,28.

Menanggapi dinamika ini, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memberikan catatan penting dalam kajiannya di Jakarta. Ia memperingatkan bahwa level 6.000 merupakan batas psikologis yang menentukan arah pasar selanjutnya. Jika IHSG gagal bertahan dan justru ditutup di bawah angka tersebut, maka ada potensi indeks akan mengalami koreksi lebih dalam menuju area 5.800 hingga 5.900.

Related Post
Kondisi pasar global turut memberikan pengaruh signifikan terhadap sentimen domestik. Saat ini, perhatian investor dunia tertuju pada pergerakan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Terjadi pergeseran perilaku pasar di mana investor mulai beralih dari aksi jual menjadi aksi beli surat utang pemerintah AS. Instrumen dengan tenor pendek menjadi primadona karena lebih sensitif terhadap suku bunga, terutama di tengah meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Ketegangan geopolitik juga memicu fluktuasi pada harga komoditas energi. Harga minyak Brent dilaporkan melonjak hingga 4,4 persen ke level 102 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul rencana kedatangan kapal induk USS Theodore Roosevelt ke kawasan tersebut pada akhir November mendatang.
Beralih ke kondisi ekonomi dalam negeri, data menunjukkan inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen (yoy), sedikit meningkat dibandingkan Agustus yang berada di angka 3,19 persen (yoy). Meski demikian, inflasi inti yang masih terjaga di level 2,84 persen memberikan sinyal bahwa tekanan permintaan domestik belum terlalu agresif. Hal ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru melakukan pengetatan kebijakan moneter. Namun, kenaikan harga pangan tetap menjadi perhatian serius karena berisiko menggerus daya beli masyarakat.
Sektor perdagangan juga menunjukkan performa yang cukup impresif dengan surplus neraca perdagangan mencapai 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, para analis menyarankan kewaspadaan terhadap laju impor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor, guna mengantisipasi potensi penyempitan surplus di masa mendatang jika permintaan global melemah.
Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan cenderung melemah, sementara indeks Shanghai di China justru bergerak menguat. Di sisi lain, bursa Wall Street Amerika Serikat menutup perdagangan dengan tren positif, memberikan sedikit napas lega bagi pasar global sebelum menghadapi volatilitas di hari berikutnya.








































Tinggalkan komentar