Budaya Terancam AI Indonesia Desak UNESCO

Budaya Terancam AI Indonesia Desak UNESCO

Madurapost.co.id – Kemajuan teknologi digital yang sangat pesat, terutama kehadiran kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), kini membawa tantangan baru bagi keberlangsungan warisan budaya di seluruh dunia. Menanggapi fenomena ini, Indonesia secara tegas menyerukan kepada UNESCO agar memperkuat peran lembaga dunia tersebut dalam melindungi kekayaan budaya dari ancaman disrupsi teknologi maupun dampak perubahan iklim.

Dalam Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO yang berlangsung di Paris, Wakil Delegasi Tetap RI untuk Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Igak Satrya Wibawa, menekankan bahwa AI telah mengubah paradigma dalam cara manusia menciptakan, melestarikan, hingga menyebarluaskan nilai-nilai budaya. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan justru mengaburkan jati diri sebuah bangsa.

Budaya Terancam AI Indonesia Desak UNESCO
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

"AI harus tetap melayani kebudayaan, bukan mendefinisikan ulang identitas budaya tanpa partisipasi masyarakat pemiliknya," tegas Satrya dalam keterangannya. Ia menggarisbawahi bahwa perkembangan AI membawa risiko besar terhadap keragaman budaya, keaslian (autentisitas), hak kekayaan intelektual, hingga hak-hak para kreator budaya. Oleh karena itu, solusi atas tantangan ini harus dicari melalui kolaborasi global.

COLLABMEDIANET

Meski memberikan peringatan, Indonesia tidak menutup mata terhadap potensi positif teknologi digital. Satrya mengakui bahwa AI dan teknologi digital dapat menjadi sarana pelestarian budaya yang efektif, misalnya melalui pengalaman interaktif di museum yang dapat menarik minat generasi muda. Namun, ia menekankan bahwa manusia harus tetap menjadi pusat dari segala inovasi tersebut agar museum tetap berfungsi sebagai institusi pembelajaran dan keterlibatan masyarakat yang relevan.

Lebih lanjut, Indonesia mendorong konsep "museum hidup" (living museum). Konsep ini dinilai sangat krusial bagi negara-negara berkembang yang masih mempraktikkan berbagai tradisi dan sistem pengetahuan lokal secara turun-temurun. Sebagai contoh nyata, Indonesia menyoroti sistem Subak di Bali dan praktik adat Sasi di pesisir Maluku. Kedua tradisi ini merupakan bukti nyata bagaimana pengetahuan lokal mampu menyelaraskan antara konservasi lingkungan dengan keberlanjutan hidup masyarakat.

Selain isu teknologi, Indonesia juga menyoroti ancaman perubahan iklim terhadap situs-situs budaya. Indonesia mendesak UNESCO agar membantu negara-negara berkembang dalam membangun ketahanan budaya agar tetap terjaga dari dampak kerusakan lingkungan. Perlindungan budaya, menurut Indonesia, memerlukan kebijakan yang tangguh dan harus menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.

Di sisi lain, delegasi Indonesia juga menyoroti aspek internal organisasi UNESCO. Sasi Hemawardhani, Diplomat Indonesia untuk UNESCO, menyerukan perlunya penguatan institusional melalui pemerataan keterwakilan geografis dan keseimbangan gender dalam struktur organisasi. Indonesia mendorong strategi rekrutmen yang lebih inklusif bagi negara-negara yang selama ini kurang terwakili, dengan tetap mengedepankan prinsip meritokrasi.

Sebagai penutup, Indonesia mendesak UNESCO agar tidak hanya berhenti pada komitmen normatif atau sekadar retorika. Indonesia meminta langkah konkret berupa bantuan teknis, penguatan kapasitas, dukungan pendanaan, serta pertukaran pengetahuan yang nyata, terutama bagi negara-negara berkembang agar mampu menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar