Efek Gandrung Sewu Dongkrak Ekonomi Lokal

Efek Gandrung Sewu Dongkrak Ekonomi Lokal

Madurapost.co.id – Gelaran tari kolosal Gandrung Sewu kembali membuktikan kekuatannya sebagai mesin penggerak ekonomi di Kabupaten Banyuwangi. Festival budaya tahunan yang dipusatkan di Pantai Marina Boom ini tidak hanya sekadar menjadi ajang pameran seni, tetapi juga menjadi katalisator utama bagi peningkatan pendapatan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa pemerintah daerah sengaja merancang agenda ini agar dampak positifnya tidak berhenti pada sektor pariwisata saja. Menurutnya, keberhasilan sebuah festival budaya harus diukur dari sejauh mana manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas, mulai dari pedagang kaki lima hingga pengusaha kerajinan lokal.

Efek Gandrung Sewu Dongkrak Ekonomi Lokal
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

"Kami ingin dampak dari kegiatan pariwisata ini meluas. Tidak hanya sektor perhotelan atau objek wisata yang bergerak, tetapi juga para pelaku usaha dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara harus merasakan peningkatan kesejahteraan," ujar Ipuk saat memberikan keterangan resmi terkait dampak ekonomi festival tersebut.

COLLABMEDIANET

Ipuk menambahkan bahwa strategi pengembangan pariwisata berbasis event atau acara besar akan terus menjadi prioritas pemerintah daerah. Dengan mengangkat kekayaan budaya lokal seperti tari Gandrung ke panggung yang lebih megah, Banyuwangi tidak hanya memperkuat identitas daerahnya, tetapi juga menciptakan peluang pasar yang sangat besar bagi produk-produk lokal.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa lonjakan ekonomi ini benar-benar nyata. Selama rangkaian acara Gandrung Sewu yang berlangsung pada 22 hingga 24 Oktober 2026, para pedagang di sekitar area pantai melaporkan kenaikan omzet yang sangat signifikan.

Salah satu pedagang minuman, Panut, menceritakan pengalaman manisnya selama festival berlangsung. Ia mengaku pendapatan dari jualan es jeruk perasnya melonjak tajam dibandingkan hari-hari biasa. Jika pada hari normal ia hanya mampu mengantongi Rp200 ribu per hari, kini ia bisa membawa pulang uang hingga Rp1 juta dalam sehari.

"Selama tiga hari festival ini, pembeli benar-benar membludak. Kalau tidak ada acara seperti ini, jualan saya biasa-biasa saja," ungkap Panut dengan wajah sumringah.

Tak hanya pedagang makanan dan minuman, sektor industri kreatif dan konveksi juga ikut kecipratan rezeki. Deny, pemilik usaha konveksi lokal Osing Story, menyebutkan bahwa permintaan kaus khas Banyuwangi meningkat drastis selama masa festival.

"Biasanya kami hanya menjual sekitar 100 potong kaus per hari. Namun, selama rangkaian Gandrung Sewu, rata-rata penjualan kami mencapai 300 potong setiap harinya. Ini membuktikan bahwa agenda wisata besar seperti ini adalah pasar yang sangat potensial bagi pengusaha lokal," jelas Deny.

Melalui sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi, Banyuwangi terus menunjukkan model pariwisata yang berkelanjutan, di mana tradisi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan. Informasi selengkapnya mengenai perkembangan ekonomi daerah dapat Anda pantau terus di madurapost.co.id.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar