Madurapost.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi akan menghadapi tekanan dan berpotensi bergerak di zona merah pada perdagangan Rabu ini. Tren pelemahan ini disinyalir merupakan dampak dari sentimen negatif yang tengah menyelimuti bursa saham di kawasan Asia.
Berdasarkan pantauan pasar, IHSG yang sempat dibuka dengan penguatan justru berbalik arah. Hingga pukul 10.20 WIB, indeks terpantau merosot 21,64 poin atau turun sebesar 0,35 persen ke level 6.171,29. Tidak hanya indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga ikut terseret turun sebesar 0,51 poin atau 0,08 persen ke posisi 607,65.

Meskipun sedang mengalami tekanan, peluang untuk kembali menguat sebenarnya masih terbuka lebar. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa IHSG masih memiliki potensi untuk menguji level psikologis di rentang 6.230 hingga 6.280 jika kondisi pasar mulai stabil.

Related Post
"Antusiasme pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) serta kondisi harga minyak yang relatif stabil telah membantu pasar meredam gejolak dari pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat," ungkap Ratna dalam keterangannya di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa setelah melewati periode lesu pada September lalu, pasar saham global mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di awal bulan ini. Fenomena ini didorong oleh kinerja laba perusahaan yang solid serta minat investasi yang kembali mengalir ke sektor teknologi AI. Bahkan, pasar Wall Street saat ini tengah menikmati tren bullish yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir, menjadikannya salah satu periode penguatan terpanjang sejak era Perang Dunia II.
Di sisi lain, pasar komoditas juga memberikan warna tersendiri. Harga minyak Brent terpantau stabil di kisaran 100 dolar AS per barel, sementara harga emas spot mengalami kenaikan sebesar 0,7 persen ke level 4.168 dolar AS per troy oz. Kenaikan emas ini dipicu oleh melemahnya dolar AS dan investor yang tengah menanti hasil risalah rapat The Fed untuk melihat arah kebijakan moneter ke depan.
Sementara itu, di lingkup domestik, para pelaku pasar tengah menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia periode September 2026. Data ini sangat krusial untuk melihat ketahanan ekonomi nasional setelah sebelumnya cadangan devisa tercatat meningkat pada Agustus lalu. Selain itu, kinerja penerimaan kepabeanan dan cukai yang tumbuh 8,57 persen secara tahunan juga menjadi sorotan positif bagi stabilitas fiskal.
Kabar baik lainnya datang dari prediksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tangguh di level 5,2 persen pada tahun 2026 dan 2027. Stabilitas ini didukung oleh program-program prioritas pemerintah serta investasi yang terus mengalir ke dalam negeri.
Meski bursa di Eropa dan Amerika Serikat ditutup menguat pada sesi sebelumnya, tekanan dari bursa regional Asia seperti Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, hingga Kospi Korea Selatan menjadi tantangan berat bagi pergerakan IHSG hari ini.










































Tinggalkan komentar