Madurapost.co.id – Bagi banyak orang, membeli daging sapi di pasar tradisional sering kali dianggap sebagai aktivitas sederhana. Cukup datang, pilih potongan daging yang terlihat merah segar, timbang, bayar, lalu bawa pulang untuk diolah menjadi hidangan favorit keluarga seperti rendang atau sup. Namun, di balik tampilan visual yang menggoda tersebut, terdapat proses panjang yang menentukan apakah daging tersebut layak dikonsumsi atau justru berisiko bagi kesehatan.
Warna merah yang mencolok bukanlah satu-satunya indikator kualitas. Fenomena ini menjadi sorotan penting di Kota Surabaya, Jawa Timur. PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda kini tengah gencar mengedukasi masyarakat agar tidak hanya terpaku pada harga atau warna, melainkan harus menerapkan prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

Prinsip ASUH ini menjadi standar krusial dalam memastikan keamanan pangan. Aman berarti daging bebas dari bahaya biologis maupun kimia; Sehat berarti mutu daging terjaga; Utuh berarti tidak ada campuran bahan lain yang menurunkan kualitas; dan Halal memastikan seluruh proses pemotongan sesuai dengan syariat Islam.

Related Post
Untuk memudahkan konsumen, RPH Surabaya menyarankan warga untuk berbelanja di tempat yang terjamin, seperti Pasar Daging Arimbi atau lapak yang memiliki tanda khusus "Mitra RPH Surabaya". Saat ini, terdapat sekitar 300 titik lapak mitra yang tersebar di berbagai pasar tradisional di Surabaya sebagai jaminan bahwa daging tersebut berasal dari jalur distribusi yang terkontrol.
Penting untuk dipahami bahwa kualitas daging sangat bergantung pada rantai distribusi atau cold chain. Daging adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap suhu. Berdasarkan standar Kementerian Pertanian, daging segar idealnya disimpan dalam suhu 0 hingga 5 derajat Celsius, sementara daging beku harus berada di bawah minus 18 derajat Celsius. Jika rantai dingin ini terputus, meskipun daging terlihat merah, risiko pertumbuhan bakteri tetap mengintai.
Selain itu, konsumen juga perlu memperhatikan aspek higienitas di tempat penjualan. Pastikan daging tidak bersentuhan dengan permukaan yang kotor dan ditangani dengan peralatan yang bersih. Jangan hanya bertanya "berapa harganya?", tetapi mulailah bertanya "dari mana asal daging ini?".
Meskipun harga sering menjadi pertimbangan utama, terutama saat fluktuasi harga sapi hidup memengaruhi pasar, konsumen harus bijak membedakan antara harga murah dan nilai yang wajar. Daging yang sangat murah namun tidak jelas asal-usulnya bisa jadi lebih mahal harganya di masa depan karena risiko kesehatan yang ditimbulkan.
Dengan menjadi konsumen yang lebih cerdas dan selektif, masyarakat sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan pertama bagi kesehatan keluarga. Kualitas hidangan yang lezat di meja makan tidak hanya ditentukan oleh bumbu dapur, tetapi dimulai dari keputusan tepat saat memilih daging di pasar.
Melaporkan temuan melalui kanal resmi atau memanfaatkan teknologi seperti Sistem Informasi Nasional Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (SISNAS NKV) juga dapat membantu memperkuat pengawasan pangan di Indonesia. Melalui sinergi antara pemerintah, pedagang, dan konsumen yang kritis, keamanan pangan nasional dapat lebih terjamin.










































Tinggalkan komentar