Kasus Gangguan Jiwa di Situbondo Melonjak Tajam

Kasus Gangguan Jiwa di Situbondo Melonjak Tajam

Madurapost.co.id – Kondisi kesehatan mental di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, tengah menjadi perhatian serius setelah terjadi lonjakan drastis jumlah pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Berdasarkan data terbaru dari Unit Rawat Inap Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem, tren peningkatan pasien ini terlihat sangat mencolok pada periode Agustus hingga September 2026.

Dokter Spesialis Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo, dr. Dewi Prisca Sembiring, mengungkapkan bahwa lonjakan ini berdampak langsung pada kapasitas fasilitas medis. Ia menjelaskan bahwa tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di Ruang Anjasmoro, yang merupakan ruang khusus perawatan jiwa, telah menyentuh angka maksimal yakni 100 persen.

Kasus Gangguan Jiwa di Situbondo Melonjak Tajam
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

"Jika kita melihat ke belakang, pada awal tahun 2026 tingkat keterisian tempat tidur masih tergolong rendah, yakni hanya di kisaran 20 persen. Namun, memasuki periode Agustus hingga September, terjadi kenaikan yang sangat signifikan. Rata-rata terdapat sekitar 30 pasien baru yang masuk setiap bulannya," ujar dr. Dewi Prisca saat memberikan keterangan pada Minggu.

COLLABMEDIANET

Saat ini, kapasitas ruang rawat inap di Poli Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem dirancang untuk menampung hingga 14 pasien. Secara spesifik, ruang tersebut dialokasikan untuk 12 pasien dengan gangguan kejiwaan umum dan dua pasien yang sedang menjalani program rehabilitasi Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif (Napza).

Terkait durasi perawatan, dr. Dewi menambahkan bahwa lama waktu pasien menginap sangat bervariasi. "Ada pasien yang hanya menjalani rawat inap selama satu minggu, namun ada juga yang membutuhkan waktu hingga satu bulan. Hal ini sangat bergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami pasien," jelasnya.

Menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai biaya, pihak rumah sakit memastikan bahwa mayoritas layanan pengobatan bagi pasien ODGJ dapat diakses secara gratis melalui skema BPJS Kesehatan. Namun, perlu dicatat bahwa untuk layanan khusus rehabilitasi Napza, terdapat ketentuan biaya yang berbeda.

Di sisi lain, aspek pemulihan pasien tidak hanya fokus pada pemberian obat-obatan medis semata. Kepala Ruang Poli Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem, Indah Kurniasari, menjelaskan bahwa pihak rumah sakit menerapkan pendekatan holistik dalam perawatan. Para pasien didorong untuk tetap aktif melakukan rutinitas harian guna menjaga stabilitas mental mereka.

"Setiap pagi, pasien diajak untuk berolahraga bersama. Selain itu, kami juga membiasakan aktivitas spiritual seperti shalat berjamaah. Aktivitas harian ini sangat penting untuk proses pemulihan mereka," tutur Indah.

Ia juga menambahkan prosedur keamanan medis, di mana pasien yang baru masuk dan kondisinya masih belum stabil atau cenderung agresif akan ditempatkan di ruang isolasi khusus. Hal ini dilakukan agar pasien tersebut mendapatkan penanganan intensif sebelum nantinya bisa berinteraksi dengan pasien lainnya.

Sebagai langkah preventif dan edukatif, RSUD dr. Abdoer Rahem juga telah berkolaborasi dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta berbagai Puskesmas di Situbondo. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, pihak rumah sakit telah melakukan aksi nyata berupa pembebasan pasung terhadap warga yang mengalami gangguan jiwa, guna mengembalikan hak asasi dan martabat mereka sebagai manusia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar