madurapost.co.id – Beijing mendesak agar gejolak di Laut China Selatan tidak sampai membayangi kemitraan erat antara Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara. Seruan ini datang langsung dari Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di tengah situasi regional yang memanas. Pernyataan tersebut disampaikan Wang Yi dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri Tiongkok-ASEAN di Manila, Filipina, yang berlangsung pada Rabu 22 Juli.
Namun, hanya beberapa hari sebelum pertemuan penting itu, sebuah insiden serius terjadi. Pada Senin 20 Juli, ketegangan memuncak di gugus karang yang dikenal sebagai Ren’ai Jiao oleh Tiongkok atau Beting Ayungin oleh Filipina. Insiden tersebut melibatkan aksi saling serang antara Penjaga Pantai Tiongkok dan personel militer Filipina, yang berujung pada pemanggilan Duta Besar Tiongkok oleh Manila. Peristiwa ini jelas menyoroti tantangan kompleks yang dihadapi kedua belah pihak dalam menjaga stabilitas di perairan strategis tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian menegaskan bahwa Laut China Selatan adalah arena bersama bagi negara-negara di kawasan. Ia menekankan bahwa isu-isu di perairan ini tidak seharusnya menjadi penghalang bagi hubungan Tiongkok-ASEAN yang telah terjalin baik. Lin Jian meyakini bahwa Tiongkok dan negara-negara ASEAN memiliki kearifan serta kapasitas untuk mengelola perbedaan ini dengan bijak, memastikan perdamaian, stabilitas, kerja sama, dan persahabatan tetap menjadi narasi utama. Inisiatif untuk menjaga ketenangan dan keseimbangan di Laut China Selatan, menurutnya, harus tetap berada di tangan negara-negara regional. Tiongkok menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan ASEAN untuk menyingkirkan segala gangguan dan mempercepat konsultasi mengenai Kode Etik Laut China Selatan atau Code of Conduct COC.

Related Post
Dalam pertemuan di Manila, Wang Yi juga menyoroti berbagai capaian signifikan dari Kemitraan Strategis Komprehensif Tiongkok-ASEAN selama lima tahun terakhir. Lin Jian memaparkan bahwa Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN 3.0 telah resmi ditandatangani, menandakan komitmen kuat terhadap integrasi ekonomi. Volume perdagangan bilateral terus melonjak, menjadikan Tiongkok dan ASEAN sebagai mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut. Selain itu, kedua belah pihak juga menunjukkan solidaritas dalam menghadapi bencana alam, seperti gempa bumi di Myanmar dan Mindanao Filipina, serta mempererat hubungan antarmasyarakat melalui kemudahan perjalanan timbal balik.
Wang Yi mengajukan empat proposal untuk masa depan hubungan Tiongkok-ASEAN. Pertama, menjaga lingkungan regional yang kondusif bagi perdamaian dan pembangunan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Asia seperti kerja sama, keterbukaan, dan inklusivitas. Kedua, memperkuat ketahanan pembangunan regional, berkomitmen pada kerja sama terbuka, dan memperdalam integrasi pembangunan. Ketiga, mendorong pembangunan hijau dan berbasis inovasi, memperluas kolaborasi di sektor-sektor baru seperti penanganan perubahan iklim, energi bersih, pertanian hijau, dan ekonomi biru. Keempat, tetap berorientasi pada masyarakat, mendorong pembangunan inklusif yang memberikan manfaat nyata bagi semua, memastikan hasil kerja sama Tiongkok-ASEAN dapat dirasakan dan diakses secara luas.
Pertemuan di Manila juga mengesahkan Pernyataan Bersama Menteri Luar Negeri Tiongkok-ASEAN mengenai Penanganan Dampak Perkembangan Situasi Timur Tengah terhadap Kawasan serta Penguatan Kerja Sama Energi Regional. Di








































Tinggalkan komentar