Madurapost.co.id – Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan sejarah penting dalam dunia pendidikan Islam di tanah air. Menjelang peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa secara resmi meluncurkan Program Studi (Prodi) Magister Kajian Turats di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu. Langkah ini menjadi tonggak sejarah karena program studi tersebut diklaim sebagai yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang fokus mendalami khazanah keilmuan klasik.
Peluncuran prodi ini bukan sekadar seremoni akademik biasa. Khofifah menegaskan bahwa kehadiran Magister Kajian Turats bertujuan untuk memperkuat upaya pelestarian, pengkajian, hingga pengembangan pemikiran para ulama Nusantara. Melalui program ini, diharapkan lahir generasi intelektual baru yang lahir dari rahim pesantren namun memiliki kapasitas akademik yang mumpuni untuk menjawab tantangan zaman.

Menurut Khofifah, dunia saat ini sangat membutuhkan wajah Islam yang moderat dan damai. Ia meyakini bahwa nilai-nilai tersebut tersimpan rapat dalam naskah-naskah kuno atau turats yang dimiliki oleh para ulama terdahulu. "Kehidupan keislaman yang moderat dan damai merupakan khazanah yang sangat penting untuk diperkenalkan kepada masyarakat dunia," ujar Khofifah dalam sambutannya.

Related Post
Ia menjelaskan bahwa di dalam manuskrip-manuskrip lama tersebut, tersimpan kekayaan intelektual yang luar biasa, mulai dari bidang tafsir, hadis, fikih, tasawuf, hingga catatan sejarah yang mendalam. Jawa Timur, dengan tradisi pesantrennya yang sangat kuat, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat rujukan dunia dalam memperkenalkan konsep Islam yang toleran dan rahmatan lil ‘alamin.
Perjalanan pelestarian ini sebenarnya telah dimulai sejak Khofifah menjabat pada Februari 2019. Ia secara aktif menelusuri berbagai pesantren untuk menyelamatkan karya-karya ulama yang kondisinya mulai rusak dimakan usia. Dari upaya tersebut, tercatat sekitar 400 kitab berhasil diidentifikasi, dan 200 di antaranya telah berhasil didigitalisasi agar tidak hilang ditelan waktu. Bahkan, hasil penggalian ilmu ini telah diserahkan kepada tokoh dunia, Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmed Mohamed Ahmed El-Tayeb.
Khofifah menekankan pentingnya dokumentasi yang sistematis, mulai dari pendataan hingga digitalisasi, agar karya para ulama Nusantara tetap terlindungi dan mudah diakses oleh peneliti global. Sebagai bentuk dukungan nyata, ia juga menyerahkan beasiswa secara simbolis kepada 10 mahasiswa pertama yang akan menempuh studi ini.
Menanggapi hal tersebut, Plt. Direktur Pascasarjana UINSA, Prof. Masdar Hilmy, menyatakan kesiapannya untuk mengawal program ini agar memberikan manfaat nyata bagi dunia pesantren dan pendidikan tinggi. Ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat terus memberikan dukungan berkelanjutan, termasuk melalui pemberian beasiswa rutin setiap tahunnya, demi menjaga nyala api keilmuan klasik Nusantara tetap berkobar. Melalui sinergi ini, Jawa Timur optimis dapat menjadi mercusuar peradaban Islam dunia.








































Tinggalkan komentar