Misteri Kelam di Balik Film Lobang Buaya

Misteri Kelam di Balik Film Lobang Buaya

Madurapost.co.id – Sutradara ternama Indonesia, Hanung Bramantyo, akhirnya buka suara mengenai alasan di balik keputusannya memilih genre horor untuk karya terbarunya yang berjudul "Lobang Buaya". Film yang mengambil latar sejarah kelam Indonesia pada rentang tahun 1964 hingga peristiwa 1965 ini, ternyata tidak sekadar mengandalkan elemen menakutkan demi mengejar keuntungan komersial semata.

Dalam acara nonton bareng yang digelar di Suncity Madiun XXI, Jawa Timur, pada Sabtu lalu, Hanung menjelaskan bahwa esensi dari genre horor yang ia usung jauh lebih dalam daripada sekadar kemunculan sosok hantu atau teknik jumpscare yang mengejutkan penonton. Baginya, horor yang sesungguhnya terletak pada kemampuan film tersebut dalam menyentuh sisi psikologis manusia.

Misteri Kelam di Balik Film Lobang Buaya
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

"Horor itu adalah psikologis. Teror yang menyerang psikologis kita, yang membuat kita stres, yang membuat kita tidak bisa tidur," ungkap Hanung di hadapan para penonton dan media.

COLLABMEDIANET

Menurut Hanung, penggunaan genre horor sangat relevan dengan materi cerita yang diangkat. Tragedi sejarah yang terjadi pada masa itu telah menjadi bagian dari ingatan kolektif sekaligus ketakutan yang membekas di benak masyarakat Indonesia. Dengan mengemasnya dalam nuansa horor, ia ingin penonton merasakan ketegangan emosional yang nyata.

Meski kerap disebut sebagai film horor, Hanung lebih tepat melabeli "Lobang Buaya" sebagai drama misteri investigasi. Ceritanya berfokus pada misteri kematian tujuh orang secara tidak wajar yang penuh teka-teki. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini juga menyisipkan kritik sosial yang tajam melalui istilah "7 Setan Desa". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang meresahkan masyarakat, mulai dari birokrat korup, rentenir, hingga pihak-pihak yang haus akan penguasaan sumber daya alam.

Melalui film ini, Hanung ingin menyuarakan kondisi sosial, keagamaan, dan politik yang terjadi pada masa itu, sekaligus menghubungkannya dengan isu-isu sosial yang masih relevan hingga saat ini. Ia berharap generasi muda dapat belajar sejarah secara lebih kritis dan memahami bahwa sebuah narasi sejarah bisa memiliki beragam perspektif tergantung siapa yang menyusunnya.

Kehadiran film ini di bioskop sejak 1 Oktober 2026 disambut hangat oleh masyarakat. Dalam sesi pemutaran khusus di Madiun, Hanung didampingi oleh aktris Carissa Perusset yang memerankan tokoh Arum.

Apresiasi juga datang dari Bupati Madiun, Hari Wuryanto, yang hadir dalam acara tersebut. Ia menilai film ini sangat penting sebagai media pembelajaran bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah. "Sejarah itu perlu kita ketahui semua, agar bisa memberikan pengalaman yang lebih baik. Yang baik tetap baik. Ini yang perlu kami tekankan," pungkas Bupati Madiun.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar