Madurapost.co.id – Di tengah sengatan matahari dan tanah yang mulai retak akibat kemarau panjang, sebuah tradisi kuno kembali bergema di Desa Jajar, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Bukan sekadar pertunjukan seni biasa, pagelaran kesenian Tiban yang digelar setiap hari Minggu sepanjang Oktober 2026 ini menjadi simbol perlawanan terhadap kekeringan sekaligus sebuah ikhtiar spiritual yang mendalam.
Bagi masyarakat setempat, Tiban bukan hanya tentang ketangkasan fisik, melainkan sebuah jembatan doa yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Kepala Desa Jajar, Imam Mukaryanto Edy, atau yang lebih akrab disapa Mbah Ime, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memiliki dimensi spiritual yang kuat. Ia menyebutkan bahwa pagelaran ini merupakan bentuk permohonan kolektif kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan untuk membasahi bumi yang sedang dilanda kekeringan.

"Harapannya, seni tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur kita ini tetap lestari. Mudah-mudahan di musim kemarau panjang ini, Tuhan Yang Maha Kuasa segera menurunkan hujan," ujar Mbah Ime dengan penuh harap.

Related Post
Ritual ini direncanakan akan terus berlangsung setiap pekan, selama para seniman dan pengrawit masih memiliki semangat untuk berpartisipasi. Uniknya, seluruh peserta yang terlibat dalam pagelaran ini tidak menerima bayaran sepeser pun. Mereka bergerak atas dasar kerelaan hati dan niat suci untuk menjaga warisan nenek moyang serta menjalankan doa masing-masing melalui seni.
Secara teknis, pertunjukan Tiban menyuguhkan atraksi yang memacu adrenalin. Dua pemain akan saling berhadapan, secara bergantian menyabetkan penjalin atau rotan ke tubuh lawan. Aksi heroik ini dibalut dengan iringan musik gamelan Jawa yang ritmis, menciptakan suasana magis yang menyatukan ketegangan fisik dengan kekhusyukan batin.
Daya tarik Tiban di Desa Jajar telah melampaui batas wilayah administratif. Kecamatan Gandusari kini dikenal sebagai salah satu episentrum kesenian Tiban di Trenggalek. Hal ini terbukti dari banyaknya seniman dari luar daerah yang datang untuk ikut serta. Pada pekan-pekan sebelumnya, tercatat peserta dari berbagai wilayah seperti Tulungagung, Kediri, Blitar, hingga Malang turut hadir untuk meramaikan sekaligus menyalurkan energi spiritual mereka.
Lebih dari sekadar ritual meminta hujan, Mbah Ime menekankan bahwa Tiban adalah perekat sosial. Pertemuan rutin ini menjadi ruang interaksi bagi para pelaku seni dari berbagai daerah untuk mempererat tali persaudaraan. Melalui dentuman gamelan dan sapuan rotan, masyarakat tidak hanya menjaga budaya agar tidak punah, tetapi juga menjaga keharmonisan antarwarga di tengah tantangan alam yang sulit. Melansir informasi dari madurapost.co.id, semangat kolektif inilah yang menjadi kunci keberlangsungan tradisi di masa depan.










































Tinggalkan komentar