Madurapost.co.id – Kasus dugaan kekerasan yang melibatkan mantan kepala sekolah di SMP Negeri 18 Kota Malang kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bergerak cepat dengan melakukan pendataan intensif terhadap para pelajar yang diduga menjadi korban tindakan tidak menyenangkan dari oknum kepala sekolah berinisial MAH tersebut.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, Sailendra, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah bekerja keras untuk memetakan jumlah pasti korban. Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, setidaknya terdapat 10 pelajar yang ditengarai mengalami dampak langsung dari tindakan kekerasan tersebut. Namun, angka ini bersifat dinamis dan masih terus dikaji lebih dalam.

"Kami masih dalam proses pendataan yang sangat teliti. Hingga Jumat (25/9) lalu, informasi sementara menunjukkan ada sekitar 10 siswa yang diduga menjadi korban secara langsung. Namun, kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan karena data ini masih bisa berubah," ujar Sailendra saat memberikan keterangan kepada media di Kota Malang.

Related Post
Proses pendataan ini bukan sekadar pengumpulan angka, melainkan bagian dari tahap asesmen menyeluruh. Hasil dari asesmen ini nantinya akan menjadi dasar bagi Pemkot Malang untuk menentukan langkah pendampingan psikologis yang paling tepat bagi para siswa. Sailendra menekankan pentingnya pendekatan yang humanis agar trauma yang dialami siswa tidak semakin mendalam.
Untuk memastikan akurasi data dan kondisi mental para korban, pihak dinas terus menjalin komunikasi intensif dengan para guru di lingkungan sekolah serta orang tua wali murid. Hal ini dilakukan guna memastikan tidak ada korban yang terlewatkan, mengingat ada potensi jumlah korban bertambah seiring dengan terbukanya informasi baru di lapangan.
Terkait mekanisme pemulihan trauma, Sailendra menjelaskan bahwa pendampingan psikologis akan dilakukan secara fleksibel. Pemerintah tidak ingin memaksakan prosedur yang justru membuat siswa merasa tidak nyaman. "Kami akan menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jika mereka merasa lebih nyaman bercerita di rumah, di sekolah, atau bahkan di kantor Dinas Sosial, kami akan mengikuti permintaan mereka," tambahnya.
Di sisi lain, Pemkot Malang berkomitmen penuh untuk mengembalikan suasana belajar di SMP Negeri 18 agar kembali aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa. Sebagai bentuk dukungan moral, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Malang, Dandung Djuharjanto, juga telah turun langsung memberikan pengarahan kepada para pelajar guna menenangkan situasi di sekolah.
Secara hukum, kasus ini telah masuk ke ranah kepolisian. Polresta Malang Kota dilaporkan telah menerima laporan resmi dari delapan pelajar yang menjadi korban. Para korban tersebut juga telah menjalani serangkaian pemeriksaan oleh pihak berwajib. Sebagai langkah tegas dan cepat, Pemkot Malang juga telah mencopot MAH dari jabatannya sebagai kepala sekolah guna memastikan proses hukum dan pemulihan psikologis siswa berjalan tanpa gangguan.










































Tinggalkan komentar