Madurapost.co.id – Rencana besar untuk mengurai kemacetan di kawasan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendapat lampu hijau dari otoritas perkeretaapian. Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya menyatakan dukungan penuh terhadap proyek pembangunan flyover Gedangan yang diproyeksikan menjadi solusi transportasi jangka panjang di wilayah tersebut.
Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan layang ini bukan sekadar proyek infrastruktur jalan biasa. Menurutnya, proyek ini memiliki keterkaitan erat dan bersifat saling melengkapi dengan proyek strategis nasional lainnya, yakni Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang saat ini tengah dalam tahap perancangan desain teknis atau Detail Engineering Design (DED).

Dalam rapat koordinasi yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Sidoarjo, Kamis lalu, fokus utama pembahasan adalah menyelaraskan visi antarinstansi. Hal ini mencakup desain awal, kebutuhan ruang jalan, hingga integrasi antara pembangunan flyover dengan pengembangan Stasiun Gedangan yang lokasinya sangat berdekatan.

Related Post
Denny menekankan pentingnya ketelitian dalam perencanaan ini. Ia menjelaskan bahwa terdapat perubahan rencana pada desain flyover, di mana semula direncanakan memiliki empat lajur, kini berkembang menjadi enam lajur. Perubahan ini menuntut perhitungan yang sangat matang agar tidak mengganggu eksistensi Stasiun Gedangan, yang merupakan salah satu titik strategis dalam pengembangan jaringan SRRL.
Salah satu aspek teknis yang menjadi perhatian serius adalah ketinggian flyover. Mengingat Stasiun Gedangan akan mengalami peningkatan fasilitas, termasuk peninggian infrastruktur, maka tinggi jembatan layang harus dihitung secara presisi. Hal ini krusial agar tidak menghalangi prasarana perkeretaapian, terutama sistem Listrik Aliran Atas (LAA) yang dibutuhkan untuk operasional Kereta Rel Listrik (KRL) di masa depan.
Lebih lanjut, Denny berharap agar penyusunan DED untuk flyover Gedangan dapat berjalan beriringan dengan DED proyek SRRL yang saat ini tengah dikerjakan oleh konsultan ahli asal Jepang, Chodai Co. Ltd. Dengan sinkronisasi ini, diharapkan rancangan teknis kedua proyek tersebut dapat terintegrasi secara sempurna dan menjadi acuan tunggal dalam pelaksanaan pembangunan di lapangan.
Selain masalah teknis bangunan, BTP Surabaya juga memberikan catatan penting mengenai potensi kemacetan di perlintasan sebidang antara emplasemen Stasiun Gedangan menuju Jalan Raya Jenggolo. Jika proyek SRRL sudah beroperasi dengan frekuensi kereta setiap 10 hingga 15 menit, titik tersebut berisiko menjadi sumber kemacetan baru.
"Pembangunan flyover ini memang akan sangat membantu mengurangi beban jalan nasional dan kepadatan di kawasan Gedangan. Namun, penanganan jangka panjang terhadap perlintasan sebidang di Stasiun Gedangan tetap harus direncanakan secara matang agar tidak menjadi kendala saat SRRL sudah beroperasi penuh," tegas Denny.
Melalui sinergi antara BTP Surabaya, Pemkab Sidoarjo, Kementerian PU, dan PT Kereta Api Indonesia, diharapkan proyek ini tidak hanya mampu mengurai kemacetan, tetapi juga menjamin keselamatan dan kelancaran mobilitas masyarakat secara berkelanjutan.








































Tinggalkan komentar