Madurapost.co.id – Arus logistik di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kini memasuki babak baru yang lebih terorganisir. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Regional 3 Sub Regional Jawa secara resmi meluncurkan Pos Pantau Lalu Lintas yang berlokasi strategis di Jalan Perak Barat. Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas meningkatnya volume kendaraan, terutama truk logistik dan kendaraan Roll-on/Roll-off (Ro-Ro), yang kerap memicu kepadatan di area pelabuhan.
Sub Regional Head Jawa PT Pelindo, Purwanto Wahyu Widodo, menegaskan bahwa kehadiran pos pantau ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk komitmen nyata perusahaan untuk menciptakan ekosistem kepelabuhanan yang aman, tertib, dan lancar. Fasilitas ini dirancang untuk mengintegrasikan seluruh operasional lapangan guna meminimalisir potensi kemacetan yang dapat menghambat rantai pasok nasional.

Dalam menjalankan fungsinya, Pos Pantau Lalu Lintas ini akan dioperasikan melalui pengawasan ketat oleh personel gabungan. Kolaborasi ini melibatkan Satlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak serta tim Port Security dari pihak Pelindo. Kehadiran petugas di lapangan bertujuan untuk melakukan pengawasan langsung serta penertiban arus kendaraan agar tetap sesuai dengan jalur dan regulasi yang berlaku.

Related Post
Salah satu terobosan penting dalam manajemen lalu lintas ini adalah penyediaan Buffer Area atau area penyangga. Menggunakan lahan bekas Kantor BJTI, area ini difungsikan sebagai tempat transit bagi kendaraan yang belum memasuki jadwal gate-in atau belum waktunya naik ke atas kapal. Dengan adanya area tunggu ini, penumpukan armada di pintu masuk dermaga dapat ditekan secara signifikan, sehingga pergerakan kendaraan menjadi lebih teratur dan tidak semrawut.
Menariknya, Pelindo juga memperhatikan aspek kesejahteraan para pengemudi. Di kawasan area penyangga tersebut, telah disiapkan fasilitas pendukung seperti Kantin Lastari, toilet umum, hingga sentra pedagang kaki lima (PKL) kuliner. Fasilitas ini disediakan agar para pengemudi truk dapat beristirahat dengan layak sembari menunggu jadwal keberangkatan mereka.
Purwanto menjelaskan bahwa tingginya ritme aktivitas kapal dan kendaraan di Tanjung Perak menuntut koordinasi lintas instansi yang sangat kuat. Salah satu pemicu kepadatan ekstrem adalah ketika dua kapal Ro-Ro melakukan proses bongkar muat secara bersamaan. Kondisi ini dapat memicu pergerakan hingga 200 unit truk sekaligus menuju area gate, yang jika tidak dikelola dengan baik, akan menciptakan kemacetan panjang.
Selain itu, penggunaan buffer area dan pos pantau ini juga menjadi solusi atas kendala teknis seperti perubahan jadwal sandar kapal yang mendadak atau adanya hambatan administratif pada tiket kendaraan. Pos pantau ini nantinya akan berfungsi sebagai pusat komando dan koordinasi bagi berbagai pihak, mulai dari KSOP Utama Tanjung Perak, Forum Komunitas Pengguna Ro-Ro (FKPR), hingga pemangku kepentingan terkait lainnya. Melalui sistem yang terintegrasi ini, Pelindo optimis efisiensi logistik di Tanjung Perak akan meningkat pesat.










































Tinggalkan komentar