Madurapost.co.id – Pemerintah Kota Surabaya tengah melakukan langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga komoditas pangan, khususnya cabai, menjelang penghujung tahun. Melalui penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas, pemerintah berupaya memastikan ketersediaan stok di pasar tetap terjaga guna menekan inflasi di tingkat konsumen.
Upaya ini dilakukan dengan cara menggerakkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari warga di perkampungan, kelompok tani, hingga komunitas urban farming untuk masif melakukan penanaman cabai secara mandiri. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap fluktuasi harga cabai yang seringkali melonjak tajam pada periode tertentu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa gerakan penanaman ini telah digulirkan sejak akhir Agustus hingga awal September 2026. Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah pendistribusian bibit cabai secara gratis kepada warga agar mereka dapat memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah untuk menanam sendiri.

Related Post
"Kami menargetkan hasil panen dari gerakan ini sudah bisa dinikmati pada bulan Desember mendatang. Dengan bertambahnya jumlah produksi dari tingkat rumah tangga dan kelompok tani, diharapkan pasokan di pasar akan meningkat sehingga harga cabai dapat lebih stabil dan terjangkau," ujar Nanik di Surabaya, Senin.
Untuk memacu semangat warga, Pemkot Surabaya juga menyelenggarakan ajang Surabaya Urban Farming Competition. Kompetisi ini bertujuan untuk mengajak masyarakat di berbagai kampung untuk lebih kreatif dan tekun dalam merawat tanaman, khususnya cabai. Melalui kompetisi ini, diharapkan tercipta kemandirian pangan di tingkat lokal yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi warga.
Tidak hanya mengandalkan gerakan masyarakat umum, DKPP juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan skala kelompok tani (poktan). Salah satu lokasi yang menjadi fokus pengembangan adalah di kawasan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) Jambangan. Di lokasi tersebut, sebanyak 4.100 bibit cabai telah ditanam menggunakan 2.050 polybag sebagai bagian dari upaya perluasan lahan produksi.
Menariknya, pengembangan tanaman cabai di Jambangan ini tidak dilakukan secara konvensional. Pemerintah Kota Surabaya menjalin kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menerapkan teknologi pertanian terkini. Kerja sama ini bertujuan untuk menghasilkan varietas tanaman yang lebih unggul, yakni lebih tahan terhadap serangan hama dan memiliki kualitas hasil panen yang lebih baik, termasuk meminimalisir risiko pembusukan buah.
"Ini adalah bagian integral dari upaya kami dalam memperkuat ketahanan pangan kota. Kami ingin memastikan bahwa meskipun ada tantangan cuaca atau hama, pasokan pangan tetap aman," tambah Nanik.
Dengan integrasi antara teknologi, partisipasi masyarakat, dan dukungan pemerintah, Surabaya optimis dapat meredam tekanan harga cabai di pasar tradisional maupun modern. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi model bagi penanganan ketahanan pangan di wilayah perkotaan lainnya.



































Tinggalkan komentar