Tragedi Gaza Korban Perempuan Melonjak

Tragedi Gaza Korban Perempuan Melonjak

Madurapost.co.id – Krisis kemanusiaan yang melanda Jalur Gaza telah mencapai titik yang sangat memprihatinkan, terutama bagi kaum perempuan dan anak perempuan. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh UN Women pada Jumat (9/10), jumlah korban dari kelompok rentan ini telah menyentuh angka yang sangat mengerikan. Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, diperkirakan hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan di Gaza telah tewas atau mengalami luka parah akibat serangan yang terus berlanjut.

Sofia Calltorp, selaku Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women, memberikan gambaran yang sangat kelam mengenai situasi di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa data menunjukkan lebih dari 38.000 orang telah kehilangan nyawa, sementara 11.700 lainnya menderita cedera yang sangat parah. Kondisi luka-luka ini bukan sekadar luka biasa, melainkan cedera yang mengakibatkan disabilitas seumur hidup bagi para penyintasnya.

Tragedi Gaza Korban Perempuan Melonjak
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Meskipun sempat ada upaya gencatan senjata, Calltorp menekankan bahwa kekerasan tidak benar-benar berhenti. Ia mencatat bahwa setidaknya terdapat 277 perempuan dan anak perempuan yang tewas di tengah periode gencatan senjata tersebut. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan di wilayah tersebut dan betapa besarnya risiko yang dihadapi warga sipil setiap harinya.

COLLABMEDIANET

Dampak sosial dari perang ini juga sangat masif. Hampir satu juta perempuan dan anak perempuan terpaksa mengungsi dari kediaman mereka. Hingga saat ini, mayoritas dari mereka masih hidup dalam kondisi yang sangat tidak layak, seperti tinggal di dalam tenda-tenda darurat atau di tengah reruntuhan bangunan yang sudah hancur. Kondisi ini diperparah dengan perubahan struktur sosial di Gaza, di mana jumlah rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan melonjak hingga dua kali lipat. Saat ini, diperkirakan satu dari setiap empat rumah tangga di Gaza kini dipimpin oleh seorang perempuan.

Selain krisis fisik, UN Women juga menyoroti krisis ekonomi dan kesehatan mental yang melanda. Pemangkasan dana bantuan internasional telah melemahkan berbagai organisasi kemanusiaan. Hasil survei menunjukkan bahwa 13 dari 14 organisasi kemanusiaan menyatakan ketidakmampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan bantuan yang terus membengkak.

Organisasi-organisasi tersebut melaporkan adanya lonjakan kasus kekerasan berbasis gender, kemiskinan ekstrem, serta gangguan kesehatan mental yang serius sejak tahun 2025. Selain itu, tren pernikahan anak juga dilaporkan meningkat tajam sebagai dampak dari tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan.

Menyikapi situasi ini, UN Women mendesak adanya implementasi penuh gencatan senjata yang permanen serta kepatuhan terhadap hukum internasional. Mereka juga menuntut adanya pertanggungjawaban atas berbagai pelanggaran kemanusiaan yang terjadi. "Apa yang kami temukan adalah penderitaan kolektif yang mengerikan, rasa sakit yang luar biasa, serta tingkat ketangguhan yang seharusnya tidak perlu ditanggung oleh perempuan mana pun," pungkas Calltorp.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar