Wisata Gunung Api Harus Lebih Aman

Wisata Gunung Api Harus Lebih Aman

Madurapost.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata kini tengah memperketat pengawasan terhadap sektor wisata gunung api di Indonesia. Langkah ini diambil guna memastikan keselamatan wisatawan tetap menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis petualangan. Fokus utama yang ditekankan adalah penerapan manajemen risiko yang komprehensif, mulai dari penggunaan data ilmiah hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia di lapangan.

Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, menegaskan bahwa keselamatan dalam aktivitas wisata gunung api tidak boleh hanya mengandalkan pengamatan visual secara kasat mata. Menurutnya, wisatawan sangat bergantung pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, setiap pelaku wisata wajib mengikuti status aktivitas gunung dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Wisata Gunung Api Harus Lebih Aman
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

"Keselamatan wisata gunung api harus dibangun melalui pendekatan berbasis risiko, informasi ilmiah, standar usaha pariwisata, dan kompetensi sumber daya manusia," ujar Nia saat memberikan keterangan di Jakarta.

COLLABMEDIANET

Dalam implementasinya, Nia menjelaskan bahwa para penyelenggara wisata harus menyesuaikan standar keselamatan dengan karakteristik dan tingkat risiko dari aktivitas wisata yang ditawarkan. Hal ini mencakup penyusunan Prosedur Operasi Standar (SOP) keselamatan dan keadaan darurat yang jelas. Selain itu, pengelola wajib menyiapkan jalur evakuasi, titik kumpul yang memadai, sistem komunikasi yang mumpuni, serta kesiapan personel dalam menangani situasi darurat.

Pemerintah juga merujuk pada Permenpar Nomor 6 Tahun 2025 sebagai pedoman dalam penerapan standar kegiatan usaha pariwisata berbasis risiko. Standar ini mencakup aspek keselamatan, kesiapsiagaan darurat, hingga pemenuhan sarana dan sistem informasi keselamatan yang terintegrasi.

Seiring dengan tren wisata yang kini bergeser ke arah experience-based tourism atau wisata berbasis pengalaman, aktivitas seperti trekking, pendakian, trail running, hingga sport tourism semakin diminati. Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata mendorong wisatawan untuk selalu menggunakan jasa biro perjalanan yang memiliki izin resmi serta pemandu wisata yang kompeten dan telah tersertifikasi. Penguatan kompetensi pemandu wisata melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) menjadi kunci agar pemandu mampu menghadapi medan gunung yang memiliki risiko tinggi.

Indonesia sendiri memiliki potensi luar biasa dalam sektor ini. Berada di kawasan Ring of Fire (Cincin Api), Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif. Kekayaan geologi ini merupakan aset besar yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk wisata, mulai dari wisata alam, petualangan, olahraga, edukasi, geowisata, hingga wisata budaya masyarakat lokal.

Namun, Nia mengingatkan bahwa potensi besar ini harus dikelola dengan sangat hati-hati. Pengembangan wisata gunung api harus menempatkan keselamatan sebagai fondasi utama. Dengan manajemen risiko yang matang, diharapkan pariwisata gunung api dapat berjalan secara aman, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat di sekitar lereng gunung.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar