Terungkap Biaya Politik Mahal Bikin Pejabat Korup

Terungkap Biaya Politik Mahal Bikin Pejabat Korup

madurapost.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyuarakan peringatan keras. Mereka menegaskan bahwa tingginya ongkos politik di Indonesia menjadi biang keladi utama praktik korupsi. Kondisi ini secara langsung memicu ketergantungan para calon pada penyokong dana, membuka lebar celah transaksi gelap, dan menciptakan konflik kepentingan yang berujung pada tindak pidana rasuah.

Analis Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi KPK RI Dion Hardika Sumarto, dalam sebuah seminar di Situbondo, membeberkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) tahun 2025. Menurutnya, dampak dari intrik politik transaksional tidak hanya sebatas urusan uang. Lebih jauh, ia merusak pengambilan keputusan publik dan alokasi anggaran negara. Contoh konkretnya meliputi penentuan penerima bantuan, penetapan pemenang lelang proyek, penerbitan berbagai izin atau rekomendasi, hingga campur tangan dalam promosi jabatan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Terungkap Biaya Politik Mahal Bikin Pejabat Korup
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Penelitian mendalam yang dilakukan tim KPK menunjukkan korelasi yang jelas: semakin minimnya transparansi dalam pendanaan politik, semakin besar pula potensi korupsi yang muncul. Oleh karena itu, Dion menegaskan, transparansi pembiayaan politik bukan sekadar aspek administratif dalam penyelenggaraan pemilu. Ia adalah fondasi krusial untuk membendung praktik rasuah dan memperkokoh integritas seluruh sistem politik bangsa.

COLLABMEDIANET

Untuk memutus mata rantai korupsi politik, KPK menekankan bahwa tindakan hukum terhadap individu saja tidak cukup. Perubahan mendasar pada tata kelola harus dilakukan. Ini mencakup upaya menciptakan kompetisi politik yang lebih sehat melalui reformasi pembiayaan kampanye, penetapan batasan donasi yang wajib dilaporkan, serta penguatan pengawasan dana kampanye oleh entitas independen. Transparansi total, termasuk membuka identitas para penyumbang dana, menjadi kunci. Selain itu, pengelolaan konflik kepentingan yang efektif sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan wewenang demi keuntungan pribadi.

Kajian KPK pada tahun 2020 mengungkap angka-angka fantastis terkait biaya politik. Untuk pemilihan bupati atau wali kota, seorang calon bisa menghabiskan antara Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. Angka ini melonjak drastis untuk pemilihan gubernur, yang bisa menelan biaya hingga Rp100 miliar. Data yang lebih mengkhawatirkan menunjukkan bahwa sekitar 47 persen sponsor atau donatur secara pasti mengharapkan imbalan. Ironisnya, 65 persen calon kepala daerah mengaku siap memberikan fasilitas kepada para penyokong dana setelah mereka menduduki jabatan. Fakta ini menjadi cerminan nyata betapa rentannya sistem politik terhadap intervensi kepentingan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar