Waspada Perang Pikiran di Era Digital

Madurapost.co.id – Ancaman terhadap kedaulatan sebuah bangsa kini tidak lagi hanya datang melalui dentuman meriam atau desingan peluru di medan tempur konvensional. Di era digital yang serba cepat ini, muncul sebuah ancaman baru yang jauh lebih senyap namun mematikan, yakni perang kognitif. Ancaman ini secara khusus menyasar pikiran, persepsi, hingga emosi manusia sebagai medan pertempuran utamanya.

Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, memberikan peringatan keras kepada generasi muda agar tidak lengah terhadap fenomena ini. Dalam sebuah kesempatan di Banda Aceh, ia menekankan bahwa perang kognitif adalah bentuk konflik modern yang bertujuan untuk melemahkan fondasi suatu bangsa dari dalam melalui manipulasi pola pikir masyarakat.

Waspada Perang Pikiran di Era Digital
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Berbeda dengan perang tradisional yang menggunakan senjata fisik, perang kognitif bekerja melalui ruang digital. Targetnya adalah bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bereaksi terhadap suatu informasi. Melalui penyebaran berita bohong (hoaks), disinformasi, hingga propaganda yang sistematis, musuh dapat menciptakan perpecahan dan ketidakpercayaan di tengah masyarakat.

COLLABMEDIANET

Kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, ditambah dengan kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membuat ancaman ini semakin kompleks dan sulit dideteksi. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk merusak kepercayaan publik terhadap fakta, media arus utama, hingga institusi negara. Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu polarisasi sosial yang tajam dan mengganggu stabilitas keamanan nasional.

Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terhadap serangan ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya intensitas interaksi mereka dengan dunia digital setiap harinya. Tanpa benteng pertahanan mental yang kuat, anak muda sangat mudah terjebak dalam manipulasi informasi yang dirancang untuk memicu emosi atau membentuk opini publik yang menyesatkan.

Menanggapi hal tersebut, Brigjen TNI Parluhutan menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, menjaga pola pikir dan mampu menyaring informasi secara bertanggung jawab adalah bentuk nyata dari bela negara di era modern. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus menjadi penyaring yang cerdas.

"Salah satu upaya menghadapi ancaman itu adalah memperkuat literasi digital agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Jangan sampai kita tanpa sadar menjadi alat penyebar propaganda hanya karena membagikan informasi yang memancing emosi tanpa memeriksa kebenarannya," tegas lulusan Akademi Militer 1995 tersebut.

Melalui Pelatihan Kader Bela Negara Kadet Republik Indonesia (KKRI) 2026 yang diikuti oleh ratusan pelajar di Aceh, pemerintah berupaya menanamkan kesadaran kebangsaan, kesehatan mental, dan kedisiplinan. Harapannya, generasi penerus bangsa memiliki ketahanan kognitif yang tangguh, sehingga mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental dalam menghadapi gempuran informasi di masa depan. Melansir laporan dari madurapost.co.id, penguatan karakter ini menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan bangsa di tengah arus digitalisasi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar