Madurapost.co.id – Ancaman kesehatan akibat paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kini menjadi perhatian serius para pakar medis. Universitas Indonesia (UI) melalui Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) mengeluarkan peringatan keras agar pemerintah dan masyarakat segera mengambil langkah nyata dalam pencegahan kebakaran serta pemantauan kesehatan yang lebih ketat. Fokus utama dari peringatan ini adalah melindungi kelompok rentan, terutama anak-anak, yang memiliki risiko kesehatan jangka panjang yang sangat fatal.
Kelompok yang paling terancam oleh polusi asap ini meliputi anak-anak, lansia, penderita penyakit kronis, hingga pekerja yang terpapar langsung di lapangan. Menurut pakar respirasi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus akademisi Universitas Indonesia, Nastiti Kaswandani, dampak asap tidak hanya berhenti pada gangguan pernapasan akut semata. Paparan asap yang terjadi secara terus-menerus dapat merusak perkembangan paru-paru anak secara permanen.

Lebih jauh lagi, anak-anak yang terpapar asap secara kronis berisiko tinggi mengalami asma persisten, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), gangguan pertumbuhan atau stunting, hingga masalah kognitif. Nastiti menjelaskan bahwa anak-anak memiliki kerentanan biologis yang unik. Paru-paru mereka masih dalam masa pertumbuhan, dan saluran pernapasan yang lebih sempit membuat lendir serta partikel polusi lebih mudah menumpuk dan menyebabkan penyumbatan.

Related Post
Selain itu, secara fisiologis, anak-anak bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa, yang berarti mereka menghirup lebih banyak udara per kilogram berat tubuh mereka. Aktivitas luar ruangan yang tinggi serta sistem penyaringan hidung yang belum sempurna membuat partikel berbahaya lebih mudah masuk ke paru-paru. Ditambah lagi, sistem imun dan kemampuan detoksifikasi tubuh mereka belum berkembang secara optimal.
Salah satu musuh utama dalam kabut asap adalah partikel halus PM2.5. Ukurannya yang 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia memungkinkan partikel ini menembus saluran pernapasan atas, masuk ke kantung udara di paru-paru, bahkan dalam beberapa kasus, menyusup ke dalam aliran darah. Dampak akut yang sering terlihat adalah infeksi saluran pernapasan, serangan asma yang lebih parah, iritasi mata, hingga penurunan nafsu makan.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya. Penelitian terhadap dampak kebakaran hutan di Indonesia tahun 1997 menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar asap sejak dalam kandungan memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak-anak yang tidak terpapar saat mereka mencapai usia 10 dan 17 tahun. Selain fisik, dampak pada tingkat IQ, perilaku, dan daya ingat juga menjadi kekhawatiran besar.
Menanggapi situasi ini, Nastiti menyarankan empat langkah pencegahan utama. Pertama, orang tua harus rutin memantau tinggi dan berat badan anak serta mendeteksi adanya keterlambatan perkembangan. Kedua, memantau pola napas, termasuk memperhatikan batuk atau mengi yang berulang, serta melakukan tes fungsi paru jika diperlukan. Ketiga, memperkuat proteksi melalui vaksinasi terbaru, nutrisi yang baik, serta menciptakan lingkungan rumah bebas asap. Terakhir, perlunya advokasi lingkungan yang lebih bersih dengan memantau kualitas udara, menyediakan ruang udara bersih di sekolah, dan mencegah kebakaran hutan secara tegas. Melansir informasi dari madurapost.co.id, langkah kolektif sangat diperlukan demi menyelamatkan generasi mendatang.



































Tinggalkan komentar