Madurapost.co.id – Upaya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Vietnam kini tidak lagi hanya mengandalkan jalur formal pemerintahan, melainkan merambah ke ranah diplomasi publik yang lebih menyentuh akar rumput. Melalui penguatan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi tengah menanamkan benih-benih pemahaman budaya yang lebih mendalam di tengah masyarakat Vietnam.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan bertajuk Indonesian Cultural Week yang digelar pada awal Oktober 2026. Program ini tidak hanya sekadar aktivitas akademik, tetapi menjadi jembatan interaksi budaya yang melibatkan berbagai institusi pendidikan ternama di Vietnam, seperti University of Social Sciences and Humanities (USSH-VNU) serta Hanoi University (HANU).

Dalam perhelatan tersebut, nuansa Indonesia terasa sangat kental. Para pembelajar BIPA diajak untuk mengenal lebih dekat kekayaan tradisi nusantara melalui pengenalan alat musik angklung dan kompetisi mewarnai batik. Menariknya, kegiatan mewarnai batik ini sengaja dilaksanakan untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober, sekaligus sebagai upaya memperkenalkan filosofi batik sebagai identitas bangsa Indonesia kepada warga Vietnam.

Related Post
Dewi Puspa Arum, pengajar BIPA KBRI Hanoi, menjelaskan bahwa perannya bukan sekadar mengajar tata bahasa, melainkan juga sebagai duta budaya. Menurutnya, pembelajaran bahasa akan jauh lebih bermakna jika dibarengi dengan pengenalan identitas dan tradisi yang nyata.
"Pembelajaran BIPA tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas. Kita perlu membawa bahasa ini ke dalam konteks nyata agar masyarakat Vietnam bisa merasakan langsung keunikan budaya kita," ungkap Dewi dalam keterangannya.
Guna memperluas jangkauan diplomasi ini, KBRI Hanoi juga menjajaki kolaborasi strategis dengan VOV5, kanal siaran luar negeri milik Radio Suara Vietnam. Pada 21 Oktober 2026, rombongan pengajar dan perwakilan pembelajar BIPA melakukan kunjungan resmi ke kantor VOV5 di Hanoi. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari proses penyiaran serta mendiskusikan peluang promosi bahasa dan budaya melalui media massa.
Dalam pertemuan tersebut, pihak KBRI Hanoi bertemu dengan jajaran petinggi VOV5, termasuk Wakil Direktur Departemen Siaran Luar Negeri, Cao Dinh Trung, serta para penyiar program bahasa Indonesia. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan komunikasi dua arah yang efektif. Jika VOV5 memperkenalkan kehidupan di Vietnam kepada orang Indonesia melalui siaran bahasa Indonesia, maka program BIPA dan kegiatan budaya KBRI Hanoi akan membantu warga Vietnam mengenal Indonesia dengan lebih intim.
Melalui kolaborasi antara pendidikan dan media, diplomasi publik ini diharapkan mampu memperkuat rasa saling pengertian dan persahabatan yang lebih kokoh antara kedua negara di kawasan ASEAN.










































Tinggalkan komentar