Madurapost.co.id – Warga di sekitar kawasan pelabuhan Surabaya kini memiliki harapan baru untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Bukan melalui sektor perikanan konvensional semata, melainkan melalui inovasi budidaya kepiting soka yang kini tengah naik daun. Program pemberdayaan ini terbukti mampu mendongkrak ekonomi keluarga secara signifikan, dengan catatan omzet usaha yang menembus angka Rp34,6 juta.
Langkah strategis ini diambil untuk memberikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat pesisir di sekitar wilayah operasional PT Terminal Teluk Lamong (TTL). Selama ini, mayoritas warga hanya bergantung pada hasil tangkapan laut sebagai nelayan. Namun, dengan adanya pelatihan budidaya kepiting soka, mereka kini memiliki keterampilan baru yang lebih produktif dan bernilai jual tinggi di pasar kuliner.

Sekretaris Perusahaan dan Hukum PT TTL, Syaiful Anam, menjelaskan bahwa fokus utama dari inisiatif ini adalah menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Menurutnya, pemberdayaan ini bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan upaya memperluas cakrawala peluang usaha bagi warga lokal agar mereka mampu mengelola potensi ekonomi di lingkungan mereka sendiri.

Related Post
Menariknya, efektivitas program ini dapat diukur melalui angka Social Return on Investment (SROI). Hasil kajian menunjukkan nilai SROI mencapai 1:4,9. Artinya, setiap satu rupiah yang diinvestasikan dalam program ini, mampu menghasilkan dampak sosial dan ekonomi senilai Rp4,9 bagi masyarakat. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pengembangan usaha berbasis komunitas memiliki daya ungkit yang luar biasa, mulai dari peningkatan skill individu hingga penguatan ketahanan ekonomi rumah tangga.
Tidak berhenti pada kepiting soka, geliat ekonomi di kawasan pesisir ini juga merambah ke sektor lain. PT TTL turut mendorong pembentukan kelompok pengolah kerupuk payus serta pembinaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program ini melibatkan sedikitnya 60 perempuan yang terbagi dalam 12 kelompok usaha, yang menunjukkan bahwa peran perempuan dalam ekonomi pesisir kini semakin dominan.
Selain aspek ekonomi, kesadaran terhadap lingkungan juga menjadi pilar penting. Melalui program pembibitan mangrove, masyarakat diajak untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Hal ini menciptakan hubungan yang harmonis antara pemanfaatan sumber daya alam untuk ekonomi dan upaya pelestarian lingkungan hidup.
Menatap masa depan, pemberdayaan ini juga menyasar generasi muda melalui program youth digipreneur. Program ini dirancang untuk mencetak wirausaha muda yang melek teknologi digital, sehingga mereka mampu membawa produk lokal ke pasar yang lebih luas melalui platform daring.
Berkat rangkaian program yang komprehensif ini, PT Terminal Teluk Lamong berhasil memborong empat penghargaan bergengsi dalam ajang Indonesia CSR Brilliance Award 2026. Penghargaan tersebut mencakup kategori kepemimpinan CSR, program kesehatan dan kesejahteraan, dampak sosial dan filantropi, hingga keunggulan tim CSR. Syaiful Anam menegaskan bahwa pencapaian ini adalah motivasi bagi perusahaan untuk terus melahirkan program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.



































Tinggalkan komentar