Madurapost.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan atau sideways pada perdagangan Senin pagi. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar yang memilih untuk menunggu (wait and see) arah kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Berdasarkan pantauan pasar, IHSG sempat dibuka dengan penguatan, namun perlahan mengalami tekanan. Pada pukul 09.46 WIB, indeks tercatat melemah 18,28 poin atau turun sebesar 0,34 persen ke level 5.420,98. Tren pelemahan ini juga diikuti oleh kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang merosot 2,61 poin atau 0,48 persen ke posisi 544,44.

Analis pasar modal, Liza Camelia Suryanata dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, memberikan catatan teknikal terkait pergerakan ini. Menurutnya, jika IHSG mampu menjaga pertahanan di atas level 5.424, maka ada peluang indeks untuk melaju menuju area resistansi di 5.520 hingga 5.631. Namun, ia memperingatkan adanya risiko aksi ambil untung (profit taking). Jika level 5.424 jebol, IHSG berpotensi meluncur kembali ke level 5.328, bahkan bisa menyentuh area support di 5.278 atau 5.185.

Related Post
Ketidakpastian pasar global semakin diperkeruh oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang memanas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai konflik dengan Iran yang tidak akan berakhir sebelum kemampuan nuklir Teheran dilumpuhkan telah menciptakan kekhawatiran baru. Selain itu, serangan rudal Houthi di Arab Saudi yang memaksa Kedutaan Besar AS memerintahkan evakuasi staf non-esensial turut menambah beban sentimen negatif di pasar global.
Di sisi ekonomi Amerika, perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini, namun pernyataan resmi dari bank sentral tersebut akan menjadi kunci untuk membaca arah kebijakan pada bulan Desember mendatang. Selain itu, agenda politik pemilihan paruh waktu di AS juga menjadi faktor krusial yang dipantau pasar.
Sementara itu, di dalam negeri, terdapat beberapa dinamika ekonomi yang patut dicermati. Rencana pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B50 diprediksi akan berdampak pada permintaan minyak sawit domestik. Di sisi lain, Danantara Indonesia tengah melakukan langkah efisiensi besar-besaran terhadap BUMN dengan target profitabilitas mencapai Rp334 triliun pada akhir 2026.
Meski realisasi investasi di Indonesia menunjukkan angka yang positif, mencapai Rp3.923,2 triliun, lembaga pemeringkat Fitch Ratings memberikan peringatan mengenai potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level 5,2 persen. Hal ini dipicu oleh berkurangnya belanja pemerintah serta melemahnya kepercayaan konsumen akibat ketidakpastian harga energi global. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi stabilitas pasar modal tanah air dalam beberapa waktu ke depan.










































Tinggalkan komentar