Madurapost.co.id – Sektor perikanan di Indonesia kini memasuki era baru yang lebih modern berkat sentuhan teknologi digital. Di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, para pembudidaya ikan kerapu kini mulai meninggalkan metode konvensional dan beralih ke sistem digital guna meningkatkan hasil panen mereka. Langkah transformatif ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) secara aktif memfasilitasi para petambak di wilayah tersebut untuk mengadopsi teknologi terkini. Program ini dirancang untuk memastikan bahwa teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan, tetapi juga dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para petani dan petambak di pelosok daerah.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan implementasi nyata dari program Asta Cita yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Salah satu fokus utama dalam agenda tersebut adalah mewujudkan swasembada pangan melalui penguatan produktivitas sektor agraria dan maritim.

Related Post
"Kami hadir untuk menjalankan arahan Bapak Presiden terkait ketahanan pangan. Kami ingin memastikan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan langsung oleh petambak untuk meningkatkan produktivitas mereka," ujar Meutya dalam kegiatan Teknologi Digital AIoT di Lamongan, Selasa.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Internet of Things (IoT). Melalui perangkat ini, para pembudidaya kerapu kini dapat memantau kondisi tambak secara real-time melalui aplikasi di ponsel pintar. Indikator krusial seperti kadar oksigen, tingkat keasaman (pH), hingga salinitas air dapat dipantau kapan saja tanpa harus turun langsung ke lokasi tambak secara terus-menerus.
Hasil nyata dari penerapan teknologi ini sangat mengesankan. Berdasarkan data selama lima bulan terakhir, penggunaan teknologi IoT pada budidaya ikan kerapu di Lamongan berhasil mencatatkan angka yang signifikan. Penggunaan pakan menjadi lebih efisien dengan penghematan hingga 20 persen. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup ikan (survival rate) meningkat sebesar 16 persen, yang secara otomatis mendorong produktivitas budidaya melonjak lebih dari 24 persen.
Meutya menambahkan bahwa ke depannya, integrasi antara IoT dan Artificial Intelligence (AI) akan semakin diperdalam. Dengan AI, jumlah indikator yang dapat dipantau akan semakin banyak, sehingga pengelolaan tambak menjadi jauh lebih efisien dan presisi.
Selain menyediakan perangkat keras, pemerintah juga memberikan pendampingan dan edukasi intensif kepada para petambak. Hal ini dilakukan agar para pembudidaya tidak hanya memiliki alatnya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengoperasikan perangkat digital tersebut secara optimal. Melalui kolaborasi dengan berbagai startup dan inovator lokal, pemerintah berharap ekosistem inovasi digital di sektor perikanan dapat terus tumbuh dan memperkuat posisi Indonesia di pasar pangan global.



































Tinggalkan komentar