<strong>Madurapost.co.id – Sebuah kisah haru sekaligus inspiratif datang dari para penari Gandrung Sewu 2026 yang baru saja tiba di Banyuwangi. Meski baru saja melewati pengalaman mencekam akibat insiden kebakaran kapal feri di penyeberangan Merak-Bakauheni, semangat para seniman asal Sumatera ini tidak luntur sedikit pun. Mereka tetap bertekad untuk menuntaskan misi seni mereka di tanah Jawa.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut langsung kedatangan rombongan penari yang berasal dari Palembang dan Lampung tersebut. Kehadiran mereka di Banyuwangi menjadi momen yang emosional, mengingat perjalanan yang mereka tempuh penuh dengan risiko dan trauma akibat musibah kebakaran yang menimpa kapal yang mereka tumpangi.

Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas keselamatan para penari. Ia mengaku sangat kagum dengan ketangguhan mental para seniman muda ini. Walaupun sempat mengalami trauma psikologis dan beberapa di antaranya mengalami cedera fisik ringan, keinginan untuk tampil di panggung megah Gandrung Sewu tetap membara.

Related Post
"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur para penari maupun pendamping selamat dan bisa sampai di Banyuwangi dengan selamat," ujar Ipuk dengan nada penuh haru saat ditemui di Banyuwangi, Jawa Timur.
Ipuk juga memberikan apresiasi tinggi kepada Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Sumatera Selatan. Organisasi ini dinilai berperan krusial dalam mendampingi serta memfasilitasi kebutuhan para penari selama masa sulit di perjalanan hingga akhirnya bisa menginjakkan kaki di Banyuwangi.
Tragedi kebakaran tersebut ternyata tidak hanya menyisakan trauma, tetapi juga kerugian materiil yang cukup besar. Berdasarkan informasi yang diterima, kostum tari, kipas, hingga selendang yang akan digunakan untuk tampil ikut hangus terbakar dalam insiden tersebut. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bergerak cepat dengan memberikan bantuan berupa aksesoris tari baru, seperti selendang dan kipas, serta membantu pengurusan dokumen kependudukan (KTP) yang ikut hilang dalam musibah tersebut.
"Kami tahu mereka sempat sangat sedih saat melakukan panggilan video karena perlengkapan tari mereka habis terbakar. Oleh karena itu, kami memberikan bantuan perlengkapan dan memastikan kebutuhan mereka selama di Banyuwangi hingga kembali ke daerah asal akan ditanggung oleh pemerintah kabupaten," tambah Ipuk.
Salah satu penari, Fitri, mengungkapkan rasa syukurnya bisa selamat dari maut. Meski sempat terguncang, ia menegaskan bahwa semangat untuk menari tidak akan padam. "Puji Tuhan kami diberi keselamatan. Kami sangat bersemangat untuk tetap tampil di Gandrung Sewu," ungkapnya singkat.
Pergelaran akbar Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan akan menyapa masyarakat di Pantai Marina Boom pada Sabtu malam. Tahun ini, festival budaya tersebut tampil lebih meriah dengan melibatkan 1.300 penari. Menariknya, sebanyak 200 penari merupakan peserta dari luar Banyuwangi, termasuk delegasi dari Palembang, Lampung, Jakarta, Bali, Malang, hingga Pasuruan, yang menambah keberagaman warna dalam panggung seni ini. Melalui laporan madurapost.co.id, diharapkan semangat para penari ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.








































Tinggalkan komentar