Tragedi Gaza Tenda Pengungsi Hancur Terendam Banjir

Madurapost.co.id – Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kini memasuki fase yang sangat kritis. Setelah berbulan-bulan dihantam konflik bersenjata, warga sipil yang tengah bertahan hidup kini harus menghadapi amukan alam. Hujan deras yang disertai angin kencang telah menyebabkan banjir bandang yang merendam sedikitnya 70.000 tenda pengungsian, membuat ribuan keluarga kehilangan tempat berlindung dalam sekejap.

Bencana ini terjadi setelah badai besar menerjang wilayah Gaza City pada Jumat malam. Cuaca ekstrem tersebut tidak hanya merusak tenda-tenda darurat, tetapi juga merobohkan puluhan dinding bangunan yang kondisinya memang sudah rapuh akibat serangan militer sebelumnya. Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian awal akibat kerusakan infrastruktur ini mencapai angka fantastis, yakni sekitar 3 juta dolar AS.

Tragedi Gaza Tenda Pengungsi Hancur Terendam Banjir
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan medis, setidaknya lima warga dilaporkan terluka akibat runtuhnya dinding bangunan dan hantaman pelat logam yang terlepas saat badai mengamuk. Juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Hosni Muhanna, mengungkapkan bahwa intensitas hujan yang turun sangat luar biasa. Hanya dalam waktu 12 jam, Gaza City menerima curah hujan sebesar 60 milimeter, atau setara dengan 15 persen dari total curah hujan tahunan mereka.

COLLABMEDIANET

Muhanna menjelaskan bahwa angin kencang telah menerbangkan banyak tenda, sementara air hujan yang tidak tertampung langsung menggenangi area pemukiman pengungsi. Masalah utamanya terletak pada sistem drainase yang sudah hancur akibat perang, sehingga kapasitasnya kini hanya tersisa sekitar 20 persen. Hal ini membuat kawasan dataran rendah menjadi sangat rentan terhadap banjir.

Direktur Hubungan Masyarakat Badan Pertahanan Sipil Gaza, Abdullah al-Majdalawi, menyatakan bahwa tim penyelamat kewalahan menerima ratusan panggilan darurat. "Kami mendatangi warga dan mendapati seluruh kamp terendam banjir. Tenda, perabotan, hingga tempat tidur mereka semuanya basah kuyup," ujarnya dengan nada pilu. Ia menambahkan bahwa tim penyelamat hanya mampu menangani ancaman keselamatan jiwa, namun tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan tempat tinggal baru bagi mereka yang kehilangan tenda.

Krisis ini diperparah oleh blokade ketat yang terus dilakukan oleh pihak Israel, yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan, peralatan berat, serta bahan bangunan untuk rekonstruksi. Tanpa adanya akses yang terbuka lebar, para pengungsi terpaksa bertahan di ruang terbuka dengan kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.

Data dari UNRWA juga memperkuat fakta betapa mengerikannya situasi ini. Sekitar 94 persen populasi Gaza, atau hampir 2 juta orang, sangat membutuhkan tempat berlindung dan kebutuhan pokok. Sebagian besar dari mereka berada dalam kondisi kritis karena kehilangan rumah secara permanen akibat perang yang telah berlangsung lama. Kini, di tengah puing-puing kehancuran, warga Gaza harus berjuang melawan dua musuh sekaligus: serangan militer dan bencana alam yang tak kunjung usai.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar