Madurapost.co.id – Pemandangan unik terlihat di lingkungan sekolah di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Jika biasanya siswa datang ke sekolah dengan tas berisi buku dan alat tulis, kini pemandangan berbeda justru muncul. Sejumlah siswa tampak bersemangat menenteng tas plastik berisi berbagai jenis sampah plastik yang dikumpulkan dari rumah masing-masing.
Fenomena ini merupakan bagian dari gerakan "Sangu Sampah", sebuah program inovatif yang bertujuan mengubah limbah menjadi nilai ekonomi sekaligus menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini. Salah satu sekolah yang sukses menjalankan program ini adalah SDN 02 Bendorejo, Kecamatan Pogalan, Trenggalek.

Setiap hari Rabu dan Sabtu, para siswa tampak antusias membawa "bekal" berupa sampah plastik. Tidak ada rasa malu atau beban saat mereka membawa karung berisi botol bekas atau aneka sampah plastik lainnya. Sebaliknya, para siswa justru merasa bangga, terutama jika jumlah sampah yang mereka bawa lebih banyak dibandingkan teman lainnya.

Related Post
Abilla Yuanita Trysamsudin, salah satu siswa kelas V yang juga merupakan kader sedekah sampah di SDN 02 Bendorejo, mengakui bahwa awalnya ia merasa canggung. Namun, lama-kelamaan kegiatan ini menjadi hal yang sangat menyenangkan. Menurutnya, program ini tidak hanya mengajarkan cara memilah sampah, tetapi juga melatih kerja sama, rasa berbagi, dan tanggung jawab antar sesama teman.
Secara teknis, program yang telah berjalan sejak awal tahun ini ini melibatkan ekosistem sekolah secara menyeluruh, mulai dari siswa, guru, wali murid, hingga komite sekolah. Sampah yang dibawa siswa kemudian didaftarkan menggunakan sistem barcode. Setelah itu, sampah dikelompokkan berdasarkan jenisnya, ditimbang, dan dicatat melalui aplikasi digital bernama TGX Waste Coin. Melalui aplikasi inilah, sampah yang terkumpul dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Kepala SDN 02 Bendorejo, Infirul Azizah, menegaskan bahwa tujuan utama dari gerakan ini bukanlah sekadar mencari keuntungan materi dari hasil penjualan sampah. Fokus utamanya adalah pembentukan karakter siswa agar memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sejak usia dini.
"Gerakan ini bertujuan membangun kepedulian dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan sejak usia dini," ujar Azizah. Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua di rumah agar kebiasaan memilah sampah ini menjadi budaya yang konsisten.
Hasilnya pun sangat nyata. Pada triwulan pertama, sekolah berhasil mengumpulkan hampir 500 kilogram sampah. Sementara pada triwulan kedua, jumlahnya mencapai sekitar 400 kilogram. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari konversi sampah ini kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung berbagai kegiatan siswa di sekolah.
Selain memberikan manfaat ekonomi, program Sangu Sampah ini terbukti efektif mengubah perilaku siswa. Kini, ruang-ruang kelas terlihat jauh lebih bersih dan tertata karena siswa sudah terbiasa memilah sampah sesuai jenisnya secara mandiri.










































Tinggalkan komentar