madurapost.co.id – Semarak peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu membawa semangat tersendiri bagi seluruh pelosok negeri. Namun, di Perumahan Bataan Permai, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, kemeriahan itu terasa istimewa dan dimulai jauh sebelum Agustus tiba. Warga RT 25 RW 08, khususnya di Dasa Wisma 1, telah bergeliat sejak pertengahan Juli, mengubah lingkungan mereka menjadi panggung perayaan yang penuh warna dan makna.
Di bawah terik matahari, kaum pria serentak melaburkan cat putih di pinggir jalan, menciptakan garis batas yang rapi. Obrolan hangat seputar dinamika politik dan kebebasan berekspresi di media sosial mengiringi setiap sapuan kuas, namun tanpa sedikit pun nuansa kebencian. Semua berakhir dengan tawa dan senyum persahabatan, ditutup dengan santap siang bersama di pos kamling, dilanjutkan dengan secangkir kopi hangat. Semangat kebersamaan ini tak berhenti di siang hari. Di malam hari, di bawah komando Ketua RT Markaban, lingkungan mereka disulap dengan hiasan kertas merah putih yang terentang dari satu rumah ke rumah lain, serta penjor berbalut kain kebangsaan di setiap kediaman.

Menjelang akhir Juli, seluruh ornamen telah terpasang sempurna. Perumahan itu kini bermandikan cahaya kerlap-kerlip lampu merah putih yang memukau, menarik perhatian pengunjung dari luar desa. "Sungguh meriah sekali suasana di sini," ujar Aziz, seorang warga yang datang berkunjung. Keunikan tak berhenti pada dekorasi. Setiap pintu gang dihiasi gapura bermotif batik, dan di depan rumah-rumah warga terpampang papan sentra dengan tema berbeda. Ada sentra memasak, kesehatan, belajar Al-Quran, pengolahan pupuk organik, literasi, bunga, ketahanan pangan, hingga kerajinan tangan.

Related Post
Di sentra literasi, anak-anak asyik menyelami lembaran buku. Ada yang terpikat kisah nabi, ada pula yang menjelajahi peta dunia. Namun, daya tarik gawai modern tak mudah dipisahkan. Tak lama berselang, ajakan bermain sepeda dari teman-teman membuat mereka beralih dari buku ke aktivitas fisik. Evy, pemilik sentra literasi sekaligus seorang guru SMA, menyadari tantangan ini. "Anak-anak memang cepat bosan. Setidaknya, dengan buku, perhatian mereka teralihkan dari ponsel. Pembiasaan butuh waktu, tidak cukup sehari dua hari," jelasnya.
Evy menyimpan cita-cita besar untuk sentra literasinya. Ia berharap teras rumahnya menjadi magnet bagi anak-anak untuk gemar membaca, bahkan berkembang menjadi pusat kegiatan literasi yang lebih luas, mencakup menulis, menggambar, dan mendongeng. Baginya, gerakan membiasakan membaca harus dimulai dari lingkungan terkecil, seperti keluarga dan RT. "Jika setiap dawis atau RT bergerak serentak, ini akan menjadi gerakan masif demi masa depan bangsa yang lebih baik," tegasnya, sembari berencana menambah koleksi buku seiring meningkatnya minat baca anak-anak.
Hj. Sri Mulyani, Ketua Dawis








































Tinggalkan komentar