Madurapost.co.id – Rencana pemerintah untuk mendatangkan rangkaian kereta listrik (KRL) bekas dari Jepang resmi dibatalkan. Langkah strategis ini diambil demi menjamin kualitas layanan transportasi publik yang lebih prima serta memberikan dorongan nyata bagi penguatan industri manufaktur dalam negeri.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, memberikan konfirmasi tegas mengenai perubahan kebijakan tersebut saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis waktu setempat. Menurutnya, keputusan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk memberikan fasilitas terbaik bagi para pengguna jasa transportasi massal.

Bobby menegaskan bahwa masyarakat, khususnya para komuter yang setiap hari mengandalkan layanan KRL, berhak mendapatkan armada yang lebih layak dan modern. Ia menepis isu mengenai rencana pengadaan unit bekas yang selama ini sempat beredar.

Related Post
"Kami tidak akan mengimpor kereta bekas. Intinya, masyarakat harus diberikan rangkaian kereta yang baru," ujar Bobby dengan lugas.
Perubahan haluan ini menandai pergeseran kebijakan dari usulan sebelumnya. Sebelumnya, rencana impor KRL bekas dari Jepang sempat mendapatkan lampu hijau dari Komisi VI DPR RI. Namun, setelah melalui pertimbangan mendalam, pemerintah kini lebih memilih untuk memprioritaskan pengadaan unit baru guna memastikan keandalan operasional jangka panjang.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan armada tersebut, pemerintah akan memberikan prioritas utama kepada produsen dalam negeri. PT Industri Kereta Api (INKA) diproyeksikan menjadi pemain utama dalam penyediaan rangkaian kereta baru ini. Langkah ini sejalan dengan misi pemerintah untuk mendukung kemandirian industri nasional.
"PT INKA kemungkinan besar akan menjadi salah satu pemasok utama. Kita memiliki kewajiban moral dan strategis untuk mendukung industri dalam negeri," tambah Bobby. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama teknis dengan pihak internasional guna mempercepat transfer teknologi dan meningkatkan standar kualitas produksi.
Kebutuhan akan penambahan armada ini memang menjadi mendesak, mengingat lonjakan jumlah penumpang yang terus meningkat di wilayah Jabodetabek. Untuk mengantisipasi kepadatan tersebut, KAI telah memetakan kebutuhan total sebanyak 23 rangkaian kereta baru.
Rincian kebutuhan tersebut terdiri dari tujuh rangkaian kereta dengan kapasitas 12 gerbong (SF12) dan 16 rangkaian kereta dengan kapasitas 8 gerbong (SF8). Sebagai langkah awal, KAI telah menetapkan pengadaan delapan rangkaian kereta sebagai prioritas utama yang harus segera direalisasikan.
Program pengadaan besar-besaran ini rencananya akan dipercepat. Bobby menargetkan seluruh proses pengadaan dan penyediaan armada baru tersebut dapat rampung dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Dengan hadirnya armada baru ini, diharapkan kenyamanan dan keamanan perjalanan para penumpang KRL dapat meningkat secara signifikan, sekaligus memperkuat ekosistem transportasi berbasis rel di Indonesia.



































Tinggalkan komentar