Madurapost.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi akan bergerak dalam rentang yang sempit atau cenderung mendatar (sideways) pada perdagangan Jumat ini. Kondisi ini terjadi karena para pelaku pasar cenderung bersikap waspada dan memilih untuk mengamati perkembangan sentimen, baik yang datang dari kancah internasional maupun dinamika ekonomi di dalam negeri.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG terpantau menguat tipis sebesar 7,73 poin atau naik 0,13 persen ke level 6.039,01. Tren positif serupa juga terlihat pada kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang naik 1,38 poin atau 0,23 persen ke posisi 595,02.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa IHSG memiliki potensi untuk menguji level support di angka 5.979. Jika level tersebut tidak mampu bertahan, indeks berisiko turun ke area 5.898 hingga 5.887. Namun, jika sentimen positif mendominasi, IHSG berpeluang menembus level resistance di kisaran 6.095 hingga 6.120.

Related Post
Ketidakpastian Global Menjadi Sorotan
Kondisi pasar global saat ini tengah dibayangi oleh ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan notulen rapat The Fed, terdapat indikasi bahwa kenaikan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) mungkin akan kembali dilakukan pada akhir 2026 untuk menekan inflasi. Pasar saat ini memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga sebesar 69 persen pada Desember 2026.
Selain masalah suku bunga, tensi geopolitik di Timur Tengah turut memberikan tekanan. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz telah mengganggu arus minyak dunia. Penurunan volume arus minyak hingga 30 persen di bawah level normal menciptakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Ditambah lagi, ancaman Badai Isaias di Teluk Meksiko turut mengganggu produksi minyak lepas pantai di Amerika Serikat.
Di sisi lain, investor di kawasan Asia juga tengah memantau kebijakan Bank of Japan (BOJ) terkait potensi pengetatan kebijakan moneter setelah imbal hasil obligasi Jepang mengalami fluktuasi.
Kondisi Domestik dan Realisasi Investasi
Dari sisi domestik, terdapat catatan penting mengenai realisasi restitusi pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Hingga September 2026, realisasi restitusi pajak tercatat sebesar Rp198,71 triliun, mengalami penurunan signifikan sebesar 38,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi likuiditas dunia usaha.
Meski demikian, sektor investasi di Indonesia menunjukkan performa yang cukup solid. Realisasi investasi nasional berhasil menembus angka Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026. Pencapaian ini juga memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai 1,448 juta orang, yang mencerminkan kontribusi nyata investasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menghadapi perdagangan hari ini, investor disarankan untuk tetap defensif dan memperhatikan pertumbuhan laba emiten serta perkembangan sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diprediksi akan menjadi penggerak pasar di tengah volatilitas yang tinggi.










































Tinggalkan komentar