Madurapost.co.id – Pondok Pesantren Baitul Arqom yang berlokasi di Balung, Jember, Jawa Timur, menorehkan catatan sejarah penting dalam peta pendidikan Islam modern di Indonesia. Sebagai pesantren pertama yang didirikan oleh para alumni Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor, lembaga ini menjadi saksi bisu bagaimana nilai-nilai luhur pesantren modern ditransformasikan ke berbagai wilayah.
Didirikan pada tahun 1959, Baitul Arqom merupakan buah pemikiran dari K.H. Abdul Mu’id Sulaiman, seorang alumnus KMI Gontor angkatan 1943. Dalam perjalanannya, beliau bersama Kiai Mahin Ilyas dan Kiai Djawahir Abdul Muin membangun fondasi pesantren ini dengan mengadopsi sistem pendidikan KMI serta prinsip-prinsip kepesantrenan yang menjadi ciri khas Gontor.

Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom, K.H. Izzat Fahd, mengungkapkan bahwa hubungan antara Baitul Arqom dan Gontor bukan sekadar hubungan sejarah semata. Lebih dari itu, terdapat ikatan batin melalui kesinambungan sanad keilmuan yang dijaga ketat. "Nilai-nilai, sistem KMI, hingga Panca Jiwa Gontor telah menjadi ruh pendidikan di Baitul Arqom sejak awal berdiri hingga sekarang," jelasnya.

Related Post
Kekuatan lembaga ini juga terletak pada regenerasi kepemimpinan yang sangat terjaga. Tradisi menimba ilmu di Gontor telah mengalir dalam darah keluarga pendiri selama empat generasi. Dimulai dari K.H. Abdul Mu’id Sulaiman, kemudian diteruskan oleh putranya K.H. Masykur Abdul Mu’id, hingga mencapai generasi saat ini yang diwakili oleh K.H. Izzat Fahd dan H. Ismat Syauqi. Menurut Ismat Syauqi, puluhan anggota keluarga besar mereka telah menempuh pendidikan di Gontor sebagai bentuk komitmen menjaga kaderisasi lembaga.
Selain aspek akademis, Baitul Arqom memiliki peran sosial yang signifikan, terutama di kawasan Tapal Kuda. Sejak akhir 1950-an, saat sekat-sekat kelompok masih sangat kuat, pesantren ini hadir dengan prinsip "Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan". Pendekatan ini menjadikan Baitul Arqom sebagai ruang perjumpaan bagi santri dari berbagai latar belakang organisasi dan daerah di seluruh Indonesia.
Keberhasilan sistem pendidikan ini terbukti dari kualitas para alumninya. Selama lebih dari enam dekade, ribuan lulusan Baitul Arqom telah berkiprah di berbagai sektor strategis, mulai dari dunia pendidikan, pemerintahan, hingga keamanan. Salah satu tokoh nasional yang merupakan alumni pesantren ini adalah Jenderal Pol. (Purn.) Badrodin Haiti, mantan Kapolri.
Kini, memasuki usia lebih dari 67 tahun, Baitul Arqom terus berinovasi. Selain mempertahankan sistem KMI, mereka mulai merambah sektor kemandirian ekonomi. H. Muhammad Imaduddin, Direktur Badan Pemeliharaan dan Pengembangan Amal Usaha Baitul Arqom, menyebutkan bahwa pengembangan sektor pertanian berbasis potensi lokal sedang dipersiapkan. Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung kemandirian ekonomi pesantren, sebagaimana informasi yang dihimpun dari madurapost.co.id.










































Tinggalkan komentar