Madurapost.co.id – Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Jawa Timur mulai memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat di Kota Madiun. Salah satu persoalan krusial yang muncul adalah krisis air bersih yang memaksa sejumlah warga harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka. Menanggapi kondisi darurat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun bergerak cepat melakukan langkah mitigasi dengan mendistribusikan bantuan air bersih ke titik-titik terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun, Deddy Purnomo Santoso, mengungkapkan bahwa bantuan distribusi air ini difokuskan untuk membantu 21 kepala keluarga (KK) yang kini tengah mengalami kesulitan air akibat sumur-sumur warga yang mengering. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan di dua wilayah, yakni Kelurahan Kelun dan Kelurahan Tawangrejo, yang keduanya berada di Kecamatan Kartoharjo.

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 14 KK di Kelurahan Kelun dan 7 KK di Kelurahan Tawangrejo menjadi sasaran utama bantuan ini. Deddy menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons cepat pemerintah daerah setelah menerima laporan dan permintaan bantuan dari warga melalui pihak kelurahan setempat.

Related Post
"Kami segera menindaklanjuti laporan warga dengan melakukan dropping atau pengiriman air bersih ke lokasi-lokasi yang membutuhkan," ujar Deddy saat memberikan keterangan kepada media.
Fenomena mengeringnya sumur warga ini ternyata bukan tanpa alasan. Deddy memaparkan bahwa di wilayah Kelun dan Tawangrejo, terdapat banyak petani yang menggunakan sumur bor (sibel) dalam skala besar untuk keperluan pengairan sawah. Di tengah puncak musim kemarau, penggunaan air tanah untuk sektor pertanian meningkat tajam, sehingga debit air tanah yang tersisa untuk kebutuhan rumah tangga menjadi sangat minim. Akibatnya, sumur-sumur dangkal milik warga kalah bersaing dengan kebutuhan irigasi pertanian tersebut.
Untuk memastikan bantuan tersalurkan secara efektif, BPBD telah menempatkan sejumlah tandon air di titik-titik strategis. Di Kelurahan Kelun, disediakan tiga tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter yang tersebar di dua titik. Sementara di Kelurahan Tawangrejo, dua tandon telah disiagakan di satu titik utama. Pengisian ulang tandon-tandon ini dilakukan secara rutin setiap dua hari sekali melalui kolaborasi antara BPBD dan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Madiun.
Lurah Kelun, Pardi, menyampaikan apresiasinya atas respons cepat pemerintah. Menurutnya, bantuan air ini tidak hanya membantu kebutuhan domestik warga, tetapi juga menjaga roda ekonomi lokal tetap berputar. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat industri rumah tangga pembuatan tempe yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih.
"Terima kasih atas respons cepatnya. Bantuan ini sangat berarti, terutama bagi warga yang belum terjangkau layanan PDAM. Dengan adanya air, aktivitas produksi industri tempe warga bisa kembali berjalan normal," tutur Pardi.
Meski pemerintah telah berupaya memfasilitasi pemasangan sambungan PDAM secara gratis bagi warga yang mengandalkan air tanah, kendala tunggakan pembayaran bulanan masih menjadi tantangan di lapangan. BPBD memprediksi bahwa tantangan krisis air ini kemungkinan besar masih akan berlangsung hingga memasuki musim penghujan pada bulan Oktober atau November mendatang.










































Tinggalkan komentar