Madurapost.co.id – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kian mencekik warga. Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, Kodim 0827 Sumenep bergerak cepat melakukan aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan air bersih guna meringankan beban masyarakat yang tengah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Langkah nyata ini diambil sebagai bentuk kepedulian institusi TNI terhadap kondisi sosial masyarakat di wilayahnya. Dandim 0827 Sumenep, Letkol Inf Citra Persada, mengungkapkan bahwa pendistribusian bantuan ini bukan sekadar aksi sosial biasa, melainkan juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI.

"Kegiatan bakti sosial berupa distribusi air bersih ini adalah wujud nyata kepedulian kami kepada masyarakat yang terdampak kekeringan," ujar Letkol Inf Citra Persada dalam keterangannya, Senin.

Related Post
Dalam operasi kali ini, Kodim Sumenep menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumenep untuk menjangkau wilayah yang paling membutuhkan. Salah satu titik utama yang menjadi sasaran bantuan adalah Desa Langsar, Kecamatan Saronggi. Desa ini tercatat telah mengalami kondisi kekeringan kritis selama tiga bulan terakhir. Sebanyak 5.000 liter air bersih dikirimkan menggunakan tangki khusus untuk membantu warga setempat.
Namun, Kodim Sumenep tidak hanya berhenti pada bantuan darurat berupa pengiriman air tangki. Letkol Inf Citra menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan langkah jangka panjang melalui program pengeboran sumber air baru. Melalui kegiatan Bhakti TNI, personel telah melakukan pengeboran di berbagai titik strategis.
"Hingga awal Oktober ini, kami telah berhasil melakukan pengeboran di 10 titik, baik di wilayah daratan maupun di daerah kepulauan, termasuk di beberapa pondok pesantren. Hasilnya, desa-desa yang menjadi sasaran program pengeboran ini kini sudah bisa menikmati air bersih dan tidak lagi kesulitan untuk kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Kehadiran bantuan air ini disambut dengan rasa syukur yang mendalam oleh warga Desa Langsar. Bagi mereka, bantuan ini sangat berarti karena selama kemarau, warga terpaksa merogoh kocek cukup dalam untuk membeli air bersih.
Masdarun, salah seorang warga Desa Langsar, menceritakan betapa beratnya perjuangan mendapatkan air saat ini. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya sekitar Rp80 ribu untuk membeli air menggunakan kendaraan pikap.
"Kalau musim kemarau begini, kami harus beli air pakai pikap. Sekali beli sekitar 2,5 kubik, itu biasanya hanya cukup untuk satu minggu. Bahkan seringkali belum genap seminggu, airnya sudah habis," keluh Masdarun.
Air yang dibeli tersebut digunakan untuk segala keperluan, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga memberi minum hewan ternak. "Terima kasih banyak kepada Kodim Sumenep atas bantuannya. Semoga ini menjadi berkah bagi kami semua," pungkasnya.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, skala kekeringan di wilayah ini cukup mengkhawatirkan. Tercatat ada 62 desa yang terdampak kekeringan di 19 kecamatan dari total 27 kecamatan yang ada. Dari jumlah tersebut, 34 desa berada di wilayah daratan dan 28 desa lainnya tersebar di wilayah kepulauan. Melansir informasi dari madurapost.co.id, penanganan terpadu antara TNI, pemerintah daerah, dan lembaga sosial diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi krisis air di Sumenep.










































Tinggalkan komentar