Madurapost.co.id – Kabupaten Klaten di Jawa Tengah tengah bersiap melakukan langkah besar untuk merebut kembali takhtanya sebagai salah satu produsen gula utama di Indonesia. Kementerian Pertanian (Kementan) kini tengah menggalakkan program strategis berupa peremajaan tanaman tebu guna memulihkan produktivitas lahan yang sempat mengalami penurunan.
Langkah ini diambil melalui program yang dikenal dengan istilah bongkar ratoon, yakni sebuah upaya untuk mengganti tanaman tebu lama yang sudah tidak produktif dengan bibit-bibit baru yang lebih berkualitas. Program ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi kebangkitan sentra industri gula di wilayah tersebut.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, mengungkapkan bahwa Klaten sebenarnya memiliki rekam jejak sejarah yang sangat kuat dalam industri gula nasional. Pada masa kejayaannya, wilayah ini merupakan pusat produksi gula yang sangat diperhitungkan karena didukung oleh keberadaan sembilan pabrik gula yang beroperasi secara masif.

Related Post
"Dahulu, Klaten pernah menjadi salah satu pusat produksi gula terbesar di Indonesia dengan dukungan sembilan pabrik gula. Namun, seiring berjalannya waktu, kejayaan tersebut perlahan mulai memudar," ujar Heru dalam keterangan tertulis yang dikutip dari madurapost.co.id.
Penurunan produktivitas ini menjadi alasan utama mengapa program bongkar ratoon dianggap sangat mendesak. Tanaman tebu yang sudah terlalu tua cenderung menghasilkan rendemen atau kadar gula yang rendah, sehingga tidak lagi efisien bagi industri. Dengan melakukan peremajaan, tanaman baru diharapkan mampu memberikan hasil panen yang jauh lebih tinggi dan bahan baku yang lebih berkualitas bagi pabrik-pabrik gula.
Heru menekankan bahwa keberhasilan misi ini sangat bergantung pada sinergi yang kuat. Ia berharap adanya kolaborasi yang erat antara pemerintah, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), para petani, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat proses peremajaan dan memperkuat kapasitas produksi perkebunan tebu di Klaten secara menyeluruh.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama SGN, Mahmudi, menjelaskan bahwa penguatan sektor hulu atau bagian perkebunan adalah kunci utama dalam membangun industri gula yang kompetitif. Menurutnya, kualitas produk akhir di pabrik sangat ditentukan oleh kualitas bahan baku yang berasal dari lahan perkebunan.
Mahmudi menambahkan bahwa peningkatan produktivitas tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus terintegrasi. Hal ini mencakup peremajaan tanaman, penggunaan varietas bibit unggul, penerapan teknik budidaya yang lebih modern, hingga pendampingan intensif bagi para petani melalui kemitraan yang kuat.
Melalui langkah strategis ini, pemerintah optimis bahwa peningkatan produksi tebu di Klaten tidak hanya akan memperkuat pasokan bahan baku industri gula lokal, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula nasional.



































Tinggalkan komentar