Madurapost.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren negatif di pasar keuangan. Pada penutupan perdagangan Selasa, mata uang Garuda terpantau melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data pasar, rupiah bergerak turun 3 poin atau sekitar 0,02 persen, sehingga menyentuh level Rp17.981 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di angka Rp17.978 per dolar AS.
Kondisi ini tidak hanya terlihat di pasar spot, namun juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia. Kurs JISDOR tercatat melemah ke level Rp17.998 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di angka Rp17.965 per dolar AS. Pelemahan ini memberikan sinyal kewaspadaan bagi para pelaku pasar domestik.

Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed. Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor pemicu yang membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa The Fed akan mengambil langkah pengetatan moneter lebih lanjut.

Related Post
Ibrahim menambahkan bahwa pasar tengah mencermati potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Hal ini menyusul langkah The Fed yang sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pertengahan September lalu. Langkah tersebut merupakan kenaikan suku bunga pertama dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, yang menandakan pergeseran arah kebijakan ekonomi AS.
Berdasarkan data dari CME FedWatch, sentimen pasar saat ini sangat condong pada kebijakan yang ketat atau hawkish. Terdapat peluang sebesar 70 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober mendatang. Hal ini dipicu oleh serangkaian pernyataan dari pejabat-pejabat tinggi The Fed pekan lalu yang memberikan sinyal kuat mengenai pengetatan kebijakan.
Selain faktor suku bunga, pekan ini diprediksi akan menjadi pekan yang sangat krusial bagi pergerakan mata uang global. Pasar tengah menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dapat menentukan arah kebijakan ekonomi dunia. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada Rabu (30/9), disusul data ISM Manufacturing PMI pada Kamis (1/10), dan ditutup dengan laporan tenaga kerja Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat (2/10).
Di sisi lain, dinamika geopolitik juga turut memberikan warna pada pergerakan nilai tukar. Adanya potensi dialog antara Amerika Serikat dengan Iran untuk meredakan ketegangan perang menjadi perhatian serius. Iran dikabarkan tengah mengajukan revisi proposal tujuh hari yang mencakup penghentian permusuhan di wilayah Iran dan Lebanon, pencairan aset, hingga pencabutan sanksi minyak. Jika diplomasi ini membuahkan hasil, hal tersebut dapat mengubah peta risiko pasar global secara signifikan.
Melansir laporan madurapost.co.id, para investor kini berada dalam posisi menunggu (wait and see) untuk melihat bagaimana data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed selanjutnya akan memengaruhi stabilitas rupiah di masa mendatang.










































Tinggalkan komentar