Rupiah Tertekan Konflik Yaman dan Saudi

Rupiah Tertekan Konflik Yaman dan Saudi

Madurapost.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin. Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda merosot 35 poin atau sekitar 0,20 persen, sehingga kini bertengger di level Rp17.917 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan yang cukup signifikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.882 per dolar AS.

Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang membayangi stabilitas mata uang domestik. Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik antara kelompok Ansarullah di Yaman dengan Arab Saudi menjadi pemicu utama ketidakpastian pasar global yang berdampak pada rupiah.

Rupiah Tertekan Konflik Yaman dan Saudi
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Menurut Ibrahim, situasi semakin memanas setelah pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dengan dukungan penuh dari Arab Saudi, mengumumkan rencana operasi militer skala besar. Operasi ini bertujuan untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang saat ini masih berada di bawah kendali kelompok Ansarullah.

COLLABMEDIANET

"Ketegangan ini dipicu oleh klaim kelompok Ansarullah yang melakukan serangan balasan terhadap fasilitas vital di Arab Saudi. Mereka meluncurkan rudal balistik serta pesawat nirawak (drone) ke fasilitas milik Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.

Serangan tersebut disebut-sebut sebagai bentuk pembalasan atas rangkaian serangan udara dan rudal yang dilakukan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman. Ansarullah mengklaim telah melancarkan puluhan serangan dalam waktu singkat sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai 50 serangan udara dalam kurun waktu 12 jam terakhir.

Hingga saat ini, pihak Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi terkait dampak serangan tersebut. Namun, ancaman terhadap fasilitas Saudi Aramco telah memicu kekhawatiran mendalam di pasar energi global. Mengingat posisi Saudi sebagai eksportir minyak utama dunia, gangguan pada produksi mereka dapat memicu fluktuasi harga komoditas yang berujung pada volatilitas mata uang di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Selain faktor geopolitik, para investor global juga tengah bersikap waspada sambil menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data yang sangat dinantikan antara lain adalah indeks ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru, serta data sentimen konsumen dari University of Michigan.

Data-data ekonomi AS tersebut akan menjadi panduan bagi investor dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed, yang secara langsung akan memengaruhi aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia.

Sementara itu, jika menilik data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dari Bank Indonesia, terdapat sedikit pergerakan berbeda. Kurs JISDOR tercatat bergerak menguat ke level Rp17.917 per dolar AS, naik tipis dari posisi sebelumnya di level Rp17.898 per dolar AS. Meski demikian, secara keseluruhan, sentimen global tetap cenderung menekan nilai tukar rupiah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar