Madurapost.co.id – Harapan baru kini hadir bagi sembilan ekor orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang sempat menjadi korban tragis kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setelah melalui proses rehabilitasi yang panjang, satwa primata yang terancam punah ini akhirnya resmi dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Langkah besar ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar, KPH Ketapang Utara, serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Proses pelepasan ini menjadi momen krusial dalam upaya konservasi satwa liar di wilayah tersebut.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menjelaskan bahwa sembilan orangutan tersebut terdiri dari empat pasangan induk dan anak, yakni Mama Angelo dengan Angelo, Mama Ocha dengan Ocha, Mama Satya dengan Satya, serta Mama Pia dengan Pia. Selain empat pasangan tersebut, terdapat satu orangutan betina dewasa bernama Mama Noni yang juga ikut dilepasliarkan.

Related Post
Ada fakta medis yang cukup menyentuh sekaligus memberikan harapan baru. Berdasarkan pemeriksaan kesehatan sebelum proses translokasi, tiga orangutan betina—Mama Ocha, Mama Pia, dan Mama Satya—ditemukan dalam kondisi sedang bunting. Dengan dilepasliarkan ke habitat yang lebih aman, diharapkan mereka dapat melahirkan dan membesarkan keturunan mereka secara alami di alam liar tanpa gangguan.
Sebelumnya, kesembilan satwa ini ditemukan dalam kondisi memprihatinkan akibat kebakaran hutan hebat yang melanda kawasan Ketapang dan Kayong Utara pada September 2026. Mereka ditemukan dalam kondisi dehidrasi parah dan malnutrisi karena kehilangan sumber pakan. Bahkan, Ocha dan Mama Ocha ditemukan mengalami luka bakar pada bagian kaki akibat melintasi lahan gambut yang masih membara.
"Upaya penyelamatan ini sangat penting, namun tidak berhenti di situ. Rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat asli adalah kunci utama agar populasi mereka tetap terjaga," ujar Murlan Dameria Pane.
Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih sebagai lokasi baru karena memiliki daya dukung ekologis yang sangat baik. Kawasan seluas 23.000 hektare ini menyediakan sumber pakan, air, hingga pohon sarang yang melimpah. Selain itu, kawasan ini dinilai relatif aman dari ancaman kebakaran dan didukung oleh masyarakat Desa Batu Lapis serta Desa Sekukun yang aktif menjaga kelestarian hutan.
Proses pemindahan atau translokasi ini bukanlah perkara mudah. Tim harus menempuh perjalanan selama 12 jam melalui jalur darat, perahu, hingga berjalan kaki dengan bantuan masyarakat setempat. Setibanya di lokasi, proses pelepasan ini disambut dengan ritual adat oleh warga setempat sebagai bentuk doa agar para orangutan tersebut dapat hidup dengan selamat dan terlindungi di rumah barunya.
Pihak YIARI dan KPH Ketapang Utara berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan berkelanjutan guna memastikan para orangutan tersebut mampu beradaptasi dengan baik serta memperkuat pengawasan kawasan dari ancaman pembalakan liar dan kebakaran hutan.



































Tinggalkan komentar