<strong>Madurapost.co.id – Suasana duka yang mendalam menyelimuti Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Tangis pilu keluarga dan warga pecah saat peti jenazah Taruno Hidayat (46), salah satu korban tenggelamnya kapal KMP Virgo Transport 8, akhirnya tiba di kampung halaman. Setelah penantian panjang selama dua pekan, jasad pria yang dikenal sebagai sosok pendidik ini akhirnya dapat dipulangkan untuk mendapatkan peristirahat terakhir.
Proses pemulangan jenazah ini melibatkan koordinasi intensif antara berbagai instansi, mulai dari Basarnas, tim DVI Banjarmasin, kepolisian, hingga BPBD Jawa Timur dan Kabupaten Madiun. Berdasarkan keterangan dari Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis, jenazah Taruno sebelumnya ditemukan oleh tim Basarnas Surabaya di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Jumat (25/9) lalu.

Namun, proses pemulangan tidak bisa dilakukan secara instan. Tim medis dan tim identifikasi harus bekerja ekstra teliti untuk memastikan identitas korban. "Kami melakukan koordinasi ketat. Setelah melalui proses identifikasi melalui pakaian yang dikenakan serta konfirmasi dari pihak keluarga, tim DVI akhirnya mengeluarkan nota resmi yang menyatakan bahwa jenazah tersebut benar adalah Bapak Taruno Hidayat," ungkap Boby saat memberikan keterangan kepada media.

Related Post
Tragedi ini bermula ketika KMP Virgo Transport 8 yang membawa penumpang menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengalami kecelakaan fatal di perairan Masalembo. Perjalanan yang semula diniatkan untuk urusan dagang tersebut berubah menjadi mimpi buruk bagi keluarga korban. Diketahui, Taruno tidak sendirian dalam perjalanan tersebut; ia pergi bersama adik kandungnya, Tihwin Nuryanto (43).
Ironisnya, meski satu jenazah telah berhasil diidentifikasi dan dimakamkan, nasib sang adik, Tihwin, masih menjadi misteri. Hingga saat ini, Tihwin dinyatakan masih hilang dan belum ditemukan di tengah luasnya perairan Laut Jawa. Tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian secara intensif untuk menemukan keberadaan korban kedua.
Di Desa Kare, sosok Taruno dikenal sebagai sosok yang berdedikasi. Sehari-hari, ia mengabdi sebagai seorang guru Sekolah Dasar (SD) di desa setempat. Untuk membantu perekonomian keluarga, ia juga merintis usaha sampingan dengan berdagang komoditas sayur-mayur ke Kalimantan setelah menerima tawaran dari seorang kawan lama. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi istri dan ketiga anaknya yang kini harus belajar tegar menghadapi kenyataan pahit.
Setibanya di lokasi pemakaman, jenazah Taruno disholatkan di Masjid Baitul Muttaqin sebelum akhirnya diberangkatkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Seweru. Di tengah isak tangis pelayat, doa-doa dipanjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, sembari berharap agar adik korban segera ditemukan dalam keadaan selamat. Melansir informasi dari madurapost.co.id, keluarga kini hanya bisa berserah diri sambil menanti kepastian mengenai keberadaan Tihwin.










































Tinggalkan komentar