madurapost.co.id – Malang Raya kembali diselimuti kepulan asap tebal seiring meluasnya kebakaran hutan di lereng Gunung Butak. Tim gabungan terus berjibaku siang malam, mengerahkan segala upaya baik dari darat maupun udara, demi menekan laju amukan si jago merah yang kian tak terkendali akibat terpaan angin kencang. Administratur Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang, Kelik Djatmiko, menegaskan bahwa optimalisasi penanganan menjadi prioritas utama dalam menghadapi bencana ini.
Kelik Djatmiko menjelaskan, api yang semula hanya berkutat di Gunung Butak kini merayap ganas, menjalar ke berbagai wilayah. Titik-titik api baru terdeteksi di area Batu Tulis dan kawasan hutan di Kucur. Tak hanya itu, kobaran api bahkan telah menyeberang batas administrasi, mengarah ke Kricik yang berada di Kabupaten Blitar, menunjukkan betapa cepatnya penyebaran kebakaran ini.

Angka kerusakan hutan akibat kebakaran ini pun melonjak drastis. Data terbaru menunjukkan luas area terdampak telah mencapai 1.050 hektare. Jumlah ini meningkat signifikan dari laporan sebelumnya yang mencatat sekitar 700 hektare, meliputi Gunung Butak dan Kawinajang. Peningkatan luas area terdampak ini menjadi indikasi serius akan tantangan besar yang dihadapi petugas di lapangan.

Related Post
Upaya pemadaman dari udara dengan metode water bombing telah digencarkan. Sejak pagi hari, helikopter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur telah melakukan setidaknya 11 kali penerbangan untuk menjatuhkan air ke titik-titik api. Operasi water bombing ini bahkan telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Namun, angin kencang yang tak henti bertiup menjadi kendala utama, membuat api sulit dipadamkan sepenuhnya.
Di sisi darat, para petugas tak kenal lelah membuat ilaran atau sekat bakar. Strategi ini diterapkan untuk mencegah api merembet lebih jauh, seperti yang dilakukan di Blok Gunung Malang. Medan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi tantangan berat bagi tim darat. Kelik Djatmiko menambahkan bahwa water bombing akan kembali dilanjutkan, diiringi dengan pembuatan sekat bakar di lokasi-lokasi yang memungkinkan.
Total 100 personel gabungan dari berbagai posko, termasuk Pesanggrahan, Selorejo, Precet, Pujon Kidul, dan Ngantang, bahu membahu dalam operasi pemadaman dan antisipasi meluasnya titik api. Koordinasi lebih lanjut terkait potensi operasi modifikasi cuaca (OMC) juga sedang dibahas dengan BPBD. Perjuangan melawan amukan si jago merah masih jauh dari kata usai, dengan harapan upaya maksimal ini dapat segera mengendalikan situasi dan menyelamatkan sisa hutan.










































Tinggalkan komentar