Madurapost.co.id – Dunia jurnalistik tidak hanya menuntut kecepatan dalam menyampaikan informasi, tetapi juga ketangguhan fisik dan mental, terutama saat menghadapi situasi darurat. Menyadari risiko tinggi yang dihadapi oleh para awak media di lapangan, sebuah inisiatif penting dilakukan untuk membekali para jurnalis dengan kemampuan mitigasi dan keselamatan kerja saat meliput bencana alam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi menggelar lokakarya bertajuk "Jurnalis Tangguh Bencana" yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan yang direncanakan berjalan selama dua hari ini menjadi momentum krusial bagi para praktisi media untuk meningkatkan kapasitas mereka, tidak hanya sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam edukasi keselamatan publik.

Dalam sesi materi yang intensif, Muhammad Adimaja, seorang pewarta foto berpengalaman dari LKBN ANTARA, hadir sebagai narasumber utama. Ia membagikan pengetahuan mendalam mengenai prosedur keamanan dan keselamatan peliputan bencana. Fokus utama dari materi ini adalah bagaimana seorang jurnalis dapat tetap menjalankan tugas profesionalnya tanpa mengabaikan keselamatan nyawa pribadi di tengah situasi yang tidak menentu.

Related Post
"Keamanan adalah prioritas utama. Seorang jurnalis tidak boleh hanya mengejar visual atau berita yang dramatis, tetapi harus memahami medan dan risiko yang ada di lokasi bencana," ungkap salah satu poin penting dalam diskusi tersebut.
Lokakarya ini diikuti oleh jurnalis dari berbagai lini media, baik cetak, elektronik, maupun digital. Kehadiran para peserta yang beragam menunjukkan tingginya kebutuhan akan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas saat bertugas di wilayah terdampak bencana. BNPB berharap, melalui pelatihan ini, jurnalis tidak hanya berperan aktif dalam masa tanggap darurat—seperti melaporkan jumlah korban atau kondisi terkini lokasi—tetapi juga mampu membangun kesadaran mitigasi bencana di tengah masyarakat luas.
Peran jurnalis dalam narasi bencana sangatlah vital. Informasi yang akurat dan cepat dapat membantu proses evakuasi, sementara edukasi mengenai langkah-langkah penyelamatan diri yang disampaikan melalui berita dapat meminimalisir jumlah korban jiwa di masa depan. Dengan kata lain, jurnalis diharapkan menjadi jembatan informasi antara otoritas penanggulangan bencana dengan masyarakat umum.
Melalui kegiatan di Surabaya ini, diharapkan tercipta standar baru bagi awak media dalam menghadapi situasi krisis. Jurnalis yang tangguh adalah mereka yang mampu tetap tenang, bekerja secara sistematis, dan mampu memberikan informasi yang mencerahkan tanpa harus mengorbankan keselamatan diri sendiri. Dengan demikian, fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi dapat berjalan optimal, bahkan dalam kondisi paling ekstrem sekalipun.
Laporan ini dirangkum dari informasi yang dihimpun oleh tim redaksi madurapost.co.id.










































Tinggalkan komentar