<strong>Madurapost.co.id – Semangat perjuangan para ulama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia harus terus menyala di dalam dada generasi muda saat ini. Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo, Dwi Agus Prayitno, dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 yang digelar dengan khidmat di Alun-Alun Ponorogo, Jawa Timur, pada Kamis.
Dalam kapasitasnya sebagai inspektur apel, Dwi Agus menekankan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial belaka. Lebih dari itu, momen ini merupakan refleksi sejarah untuk mengenang kembali besarnya kontribusi para ulama dan santri dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kaum santri, untuk menjadikan nilai-nilai perjuangan tersebut sebagai fondasi dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Semangat yang diwariskan oleh para tokoh agama besar, seperti KH Hasyim Asy’ari, harus tetap kita gaungkan dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan ini adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak lepas dari tetesan keringat dan doa para santri," ujar Dwi Agus di hadapan ribuan peserta apel.

Related Post
Lebih lanjut, politisi tersebut menjelaskan bahwa perayaan Hari Santri di Kabupaten Ponorogo tahun ini dikemas dengan berbagai rangkaian kegiatan yang edukatif dan religius. Mulai dari berbagai perlombaan yang mengasah kreativitas hingga pengajian umum yang bertujuan memperkuat nilai-nilai spiritualitas. Menurutnya, rangkaian acara ini dirancang untuk meningkatkan kualitas diri santri, baik dari sisi keagamaan maupun wawasan kebangsaan.
Dwi Agus juga menyoroti pentingnya menghapus sekat-sekat sosial yang seringkali memisahkan kelompok masyarakat. Ia menegaskan bahwa konsep "santri" saat ini harus dimaknai secara luas. Tidak hanya terbatas pada mereka yang menetap di dalam pondok pesantren, tetapi juga mencakup seluruh elemen masyarakat yang memiliki semangat belajar dan pengabdian.
"Kita tidak boleh lagi membeda-bedakan latar belakang pendidikan. Baik mereka yang menempuh pendidikan di pesantren, madrasah, maupun sekolah umum, semuanya memiliki tanggung jawab yang sama. Tidak ada lagi sekat antara santri pesantren dengan siswa sekolah umum. Kita semua adalah santri dalam arti luas yang memikul amanah untuk menjaga persatuan bangsa," tegasnya.
Peringatan yang berlangsung meriah namun penuh khidmat ini diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai kalangan. Kehadiran jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Ponorogo turut menambah kekhidmatan acara tersebut. Melalui momentum ini, diharapkan sinergi antara tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dapat semakin kuat demi mewujudkan Ponorogo yang harmonis dan Indonesia yang tetap bersatu dalam keberagaman.








































Tinggalkan komentar