Misi Penyelamatan Mamalia Laut

Misi Penyelamatan Mamalia Laut

Madurapost.co.id – Upaya perlindungan terhadap satwa laut yang terdampar di perairan Indonesia kini memasuki babak baru. Menyadari tingginya risiko kematian pada mamalia laut akibat penanganan yang salah, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bergerak cepat memperkuat kapasitas tim penyelamat di lapangan.

Bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah menggelar pelatihan intensif di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Program ini dirancang khusus untuk membekali para petugas dengan keterampilan teknis dalam menangani mamalia laut yang terdampar, baik dalam kondisi hidup maupun mati.

Misi Penyelamatan Mamalia Laut
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Joni Haryadi, Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, menegaskan bahwa penanganan satwa dilindungi seperti paus dan lumba-lumba memerlukan protokol yang sangat ketat. Menurutnya, kesalahan prosedur dalam penanganan di lapangan tidak hanya berisiko memperburuk kondisi hewan tersebut, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan warga maupun petugas yang melakukan evakuasi.

COLLABMEDIANET

"Penanganan satwa laut yang dilindungi membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman prosedur yang tepat. Melalui pelatihan dan pengujian modul ini, kami berharap para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat serta meningkatkan koordinasi saat terjadi insiden cetacea (paus dan lumba-lumba) di lapangan," ujar Joni di Kupang.

Pelatihan ini juga menjadi ajang uji coba modul panduan baru yang disusun secara kolaboratif oleh KKP, YKAN, dan BRIN. Modul ini akan menjadi pedoman standar bagi para responden dan instansi terkait saat menghadapi situasi darurat di laut. Materi yang diberikan mencakup ekologi spesies, teknik identifikasi, pemantauan, hingga metode pendokumentasian data yang akurat.

Salah satu fokus utama dalam penguatan kapasitas ini adalah perlindungan di Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu. Kawasan seluas 3,35 juta hektare ini merupakan habitat vital sekaligus jalur migrasi penting bagi berbagai spesies mamalia laut, terutama paus biru pygmy (pygmy blue whale).

Namun, tantangan di Laut Sawu cukup besar. Wilayah ini merupakan bagian dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III, yang memiliki lalu lintas kapal sangat padat. Tingginya aktivitas pelayaran ini meningkatkan risiko tabrakan antara kapal dengan mamalia laut, yang sering kali berujung pada insiden hewan terdampar.

Senada dengan hal tersebut, Muhammad Ilman, Direktur Program Kelautan YKAN, menyatakan bahwa pengumpulan data yang lebih baik melalui penanganan yang tepat akan sangat mendukung manajemen kawasan konservasi. Dengan data yang reliabel dan kolaborasi antarlembaga yang kuat, upaya pelestarian ekosistem laut di Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar